Followers

Showing posts with label Self-development. Show all posts
Showing posts with label Self-development. Show all posts

14 February 2017

Tagged under: , , ,

Life-logging: Garap Data Pribadi Lebih Dalam di Tahun 2017


Istilah life-logging, quantified-self maupun personal analytics baru terdengar di telingaku akhir-akhir ini. Ternyata, melakukan entri data seperti mencatat pengeluaran per hari yang aku lakukan di tahun-tahun sebelumnya merupakan bagian dari istilah tersebut. Di tahun 2017 ini pun, aku memulai mengambil data yang kuhasilkan sehari-hari hingga ke level yang lebih detail, hingga ke waktu spesifik dan kali ini, tidak hanya mengenai data pengeluaran saja. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai data-data yang kuhasilkan dari berbagai macam sisi sekaligus menjadi proyek pribadi “iseng-isengan” dan “seru-seruan”. Secara keseluruhan framework dari proyek yang aku namakan sebagai Data Gue adalah:
Track/Gather -> Understand/Visualize/Analyze -> Review/Act





Data-data yang akan kutinjau adalah:
  • Pengeluaran harian *
  • Data makan siang (di mana dan dengan siapa)
  • Transaksi perbankan (menarik uang di ATM, transfer)
  • Transaksi belanja online *
  • Transaksi GO-JEK
  • Data penggunaan telepon pintar (menggunakan bantuan aplikasi QualityTime)
  • Film di bioskop yang ditonton *
  • Sosial media (Twitter, Line, Telegram)
* sudah pernah dilakukan di tahun–tahun sebelumnya

Selain melakukan penggarapan data melalui data entri manual via spreadsheet ataupun melalui aplikasi android seperti TapLog, visualisasi lebih lanjut pun akan dilakukan dan jika perlu dilakukan analisis secara lebih mendalam. Sebenarnya akan lebih menarik lagi untuk menggarap data pribadi yang berkaitan dengan kesehatan. Terlebih lagi, life-logging memang lebih mengutamakan data seperti itu dan juga penggarapan data dilakukan secara otomatis melalui perangkat IoT tertentu.

Tentu saja, akan menjadi lebih fantastis lagi apabila data yang lebih rinci dapat digarap. Setiap detik kehidupan kita, data-data pribadi kita bisa dihasilkan dari detak jantung, aliran darah bahkan teriakan yang kita hembuskan, semuanya bisa dibentuk menjadi data dan dikuantifikasi. Bahkan saya berpikir, ada suatu alat IoT yang tertempel di tubuh kita, merekam apa yang kita lakukan, apa yang kita bicarakan, data suara kita diubah ke teks dan dibentuklah word cloud maupun dilakukan analisis sentimental yang berguna untuk peninjauan dan refleksi diri secara harian.

Inspirasi:

“Happy Lifelogging, Happy Journaling your Life”


22 January 2017

Tagged under: , ,

Review Akhir Tahun 2016: Overview


Pergantian tahun merupakan sebuah momentum untuk menilik apa yang telah dilakukan selama satu tahun ke belakang sekaligus merancang arsitektur kehidupan di tahun selanjutnya. Merancang resolusi tahunan dan tujuan spesifik dapat membantu kita untuk memfokuskan energi pada hal-hal yang menurut kita penting.

Aku mulai merancang sebuah arsitektur tujuan pada tahun 2014, sayangnya tujuan tersebut terlalu umum, tidak spesifik, tidak memiliki batas waktu yang spesifik, tidak memiliki tahap demi tahap yang spesifik, sehingga tujuan tersebut hanya berakhir menjadi sebuah untaian kata-kata semata. Melirik dari kesalahanku yang bisa dibilang kurang bijak dalam merancang tujuan dan kurangnya motivasi untuk mencapai tujuan tersebut, aku pun memulai membuat tujuan yang sederhana pada tahun berikutnya, yaitu tahun 2015.

Start from 2015        
Tujuanku di tahun 2015 sangatlah simpel yaitu lulus dari Statistika Unpad dengan durasi 3,5 tahun dan dengan IPK minimum 3,25. Tujuanku lainnya yang sebenarnya tidak tergolong wajib adalah memperluas wilayah kunjunganku di Indonesia bagian timur dengan cara mengikuti lomba statistika, diawali dari DAC yang akan diselenggarakan di Surabaya yang berakhir gagal hingga akhirnya, aku pun berkesempatan untuk memperluas wilayahku ke Jogja dengan mengikuti ONS di UGM. Selain itu, aku pun mendapatkan kesempatan untuk berada di tempat yang lebih jauh lagi yaitu Malang untuk mengikuti NSC di Unibraw.

Sebagai langkah awal bagiku untuk lulus pada bulan Februari 2016, aku memastikan tiket tempat magang di penghujung batas waktu. Semester 7 pun merupakan semester yang penuh tantangan. Semuanya serba berada di penghujung batas waktu, mulai dari tanggal seminar, sidang maupun yudisium. IPK yang kudapatkan pun sangat tipis berada di atas target yang ingin kucapai. Menariknya, apabila aku tidak melakukan protes untuk memperbaiki nilai suatu mata kuliah di penghujung Desember 2015, aku tidak akan meraih target IPK yang ingin kucapai.

Bingkai yang terbentuk sangatlah simpel yaitu: tentukan tujuan spesifik, tentukan tahapan dalam menggapai tujuan tersebut, lakukan tahapan tersebut, tinjau ulang dan kalau perlu revisi tahapan yang sudah dibuat dan kembali lakukan tahapan revisi tersebut dan seterusnya. Melihat hasil positif yang kudapatkan di tahun 2015, 100% misi sukses, aku pun mulai mencanangkan tujuan-tujuan lainnya di tahun 2016. Aku menancapkan empat pilar utama tujuan yang hendak kucapai di tahun 2016 agar aku memfokuskan hal tersebut seutuhnya, yaitu:
  • Mengumpulkan nilai kapital seharga tiga puluh juta rupiah
  • Meraih nilai TOEFL ITP minimal 550
  • Membaca minimal 15 buku
  • Mengumpulkan tulisan yang kutulis sebanyak dua ratus ribu kata
Beberapa tujuan tidak utama dan tidak spesifik lainnya meliputi meningkatkan kemampuan teknis (pemrograman, data sains, dan sebagainya), meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan sebagainya. Tujuan awal saat itu, pasca lulus Februari 2016, yang tidak kalah penting adalah mendapatkan pekerjaan. Tujuan yang bisa dibilang merupakan tujuan turunan dari pilar utama pertama tujuan di tahun 2016 karena untuk mengumpulkan kapital sedemikian besar, aku pun harus mendapatkan pekerjaan. Secara lebih spesifik, aku mematok angka minimal lima juta rupiah sebagai remunerasi yang ingin kudapatkan.

Mendapatkan pekerjaan adalah priotas utamaku saat awal tahun kala itu. Bisa dibilang, hal tersebut merupakan tantangan dan ujian awal bagiku di tahun 2016. Pada bulan April 2016, aku pun berhasil mendapatkan pekerjaan dengan remunerasi di atas dari ambang batas minimal lima juta rupiah yang kucanangkan.
Secara keseluruhan, aku hanya mampu menyelesaikan tiga dari empat pilar utama di tahun 2016, hanya 75% saja, dikarenakan pilar keempat gagal kucapai. Aku hanya mampu mengumpulkan sekitar 190.000 kata, terpaut 10.000 kata dari target yang ingin dicapai. Namun begitu, aku tetap puas dengan performa dan pencapaianku di tahun 2016. Sudah saatnya, aku melambung lebih tinggi lagi dan mencanangkan pilar utama lainnya yang lebih fantastis. Berikut ini hasil tinjauan dari keempat pilar utama tahun 2016 yang kucanangkan.

Mengumpulkan nilai kapital seharga tiga puluh juta rupiah
Accomplish date: 23 Desember 2016
Misi inilah yang mendorongku untuk segera mendapatkan pekerjaan secepatnya di tahun 2016. Aku pun berhasil mengakhiri hari-hari pengangguranku pada tanggal 18 April 2016. Dan berdasarkan kalkulasi finansial yang kulakukan, aku memang bisa dengan mudahnya mengakumulasi kapital senilai tiga puluh juta rupiah sebelum tahun 2016 berakhir. Namun, tidak semudah itu, aku mendapatkan sedikit goncangan saat perjalanan awal karirku dimulai. Bahkan, aku hampir saja tidak mampu menyelesaikan misi yang satu ini jikalau aku ikut tergoncang akibat goncangan yang melanda di akhir tahun 2016.

Meraih nilai TOEFL ITP di atas 550
Accomplish date: 24 Desember 2016
Tanpa disangka-sangka, goncangan yang terjadi di penghujung tahun 2016 membuyarkan rencanaku untuk menyediakan beberapa waktu dan energi luang untuk belajar TOEFL ITP selama satu bulan penuh. Aku pun sempat berpikir untuk tidak mengikuti tes TOEFL ITP dikarenakan goncangan yang melanda namun aku harus tetap konsisten terhadap rencanaku di awal tahun. Jauh-jauh hari, aku sudah menargetkan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP pada akhir Desember 2016. Dua bulan sebelumnya, aku sudah mencanangkan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP pada tanggal 17 Desember 2016 di Lembaga Bahasa UI, Depok.

Tanpa persiapan sama sekali, aku pun memberanikan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP untuk memenuhi janjiku sendiri. Aku pun menemukan tempat yang lebih dekat untuk mengikuti tes ini, yaitu di UTC, Kuningan, Jakarta Selatan, hanya sekitar 400 meter dari kosanku saat itu. Dan pada akhirnya, tanggal 17 Desember 2016, aku mengikuti tes TOEFL ITP, sambil berserah diri, menikmati heningnya mendung di hari sabtu kala itu. Pasca tes dilaksanakan, aku merasa kurang yakin mampu meraih target skor di atas 550. Aku hanya melakukan tes tersebut sebisaku saat itu, menyelesaikan bacaan-bacaan secara tenang dan logis, meskipun pada sesi mendengarkan, ada beberapa bagian yang tidak bisa kutangkap seutuhnya, dan juga pada sesi struktur bahasa (grammar), aku tidak yakin 100% terhadap beberapa soal yang kukerjakan.

Meskipun begitu, tanpa disangka-sangka, aku mampu mendapatkan nilai TOEFL sedikit di atas target yang ingin kucapai. Aku mendapatkan kiriman satu minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2016. Sesuai dengan prediksiku, sesi membaca diperoleh nilai tertinggi dibandingkan sesi mendengarkan dan sesi struktur bahasa. Meskipun tanpa persiapan khusus, rutinitas membaca yang kulakukan sekaligus menambah kosakata bahasa Inggris di tahun 2016 dapat mendongkrak skor membacaku. Terlebih lagi, aku membiasakan diri untuk melatih diri melalui tes yang lebih sulit lagi dibandingkan TOEFL ITP, yaitu GRE.

Saat masih menjadi siswa SMA tahun pertama (antara 2009 dan 2010), aku mengikuti tes TOEFL prediksi yang diadakan sekolah dan hanya mendapatkan skor sebesar 447 saja. Pada tahun 2015, sebagai mahasiswa semester 6, aku pun kembali mencoba mengikuti tes TOEFL prediksi untuk mengetahui kemampuanku saat itu, dan skor yang kucapai sebesar 510, meningkat sebesar 53. Di awal tahun 2016, aku menargetkan untuk mendapatkan skor TOEFL di atas 550, dan kali ini, aku mengikuti tes yang sesungguhnya, bukan prediksi. Di akhir tahun 2016 pun, aku berhasil mendapatkan skor TOEFL ITP sebesar 570, meningkat sebesar 60, sekaligus menuntaskan targetku yang dibentuk di awal tahun 2016.

Membaca minimal 15 buku
Accomplish date: 2 September 2016
Di tahun 2016, aku membiasakan diri untuk meningkatkan aktivitas membaca, baik membaca buku maupun artikel bermanfaat. Aku pun memulai kebiasaan membaca pada tahun 2015 dan menyadari betapa bermanfaatnya aktivitas sederhana yang satu ini. Membaca dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan, pengendalian diri, kosakata, kemampuan berpikir dan hal-hal positif lainnya.

Pada awal tahun 2016, sebagai seorang pembaca buku pemula, aku mematok diri untuk menuntaskan lima belas buku. Pada akhir tahun 2016, aku berhasil menuntaskan 20 buku, dengan 5 buku yang aku kategorikan sebagai buku yang bisa dibilang sangat singkat. Aku berhasil menyelesaikan 15 buku, tepatnya pada tanggal 2 September 2016, dengan buku bacaan yang kuselesaikan kala itu adalah The Outliers yang ditulis oleh Om Gladwell.

Mengumpulkan tulisan yang kutulis sebanyak dua ratus ribu kata
Accomplish date: failed
Dua ratus ribu kata bukanlah angka yang bisa dibilang sedikit. Dua ratus ribu kata setara dengan tiga novel. Di pertengahan tahun 2016, aku sudah pede dengan mengumpulkan tulisan sebanyak 140.000 kata. Namun, karena kelalaian diri dan kebiasaan menulis yang menurun di semester dua tahun 2016, aku hanya mampu mengumpulkan sekitar 190.000 kata, terpaut 10.000 kata dari angka yang kucanangkan.

Seperti halnya membaca, aku mulai membiasakan diri untuk menulis pada awal tahun 2015, diawali dengan kelahiran Life Architecture kala itu. Di tahun 2016, beberapa wadah baru pun terlahir seperti New Stratch, Magnum Opus, Idea Writing dan Design Writing. Menulis seperti halnya membaca merupakan aktivitas yang juga bermanfaat. Aku menulis dalam rangka untuk mengeluarkan emosi, pengetahuan, peninjauan, sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Meskipun tidak mampu mencapai target yang kucapai, aku sudah cukup puas dengan total kata sebanyak 190.000 kata yang kukumpulkan selama dua tahun ini.

Be more fantastic in 2017
Tahun 2017 akan menjadi tahun yang lebih menantang lagi bagi diriku. Aku berusaha untuk mengembangkan diri dari berbagai aspek, baik tangibel maupun intangibel. Aku pun menyiapkan tiga pilar utama yang tidak berbeda jauh dibandingkan tahun 2016, lebih minimalis dan tanpa adanya misi mengumpulkan kapital, yaitu:
  • Mendapatkan nilai IELTS minimal 7.0
  • Membaca minimal 20 buku
  • Mengumpulkan tulisan yang kutulis sebanyak tiga ratus ribu kata
Secara non-spesifik, berikut ini targetku di tahun 2017:
  • Meningkatkan kesehatan fisik, mental dan spiritual
  • Meningkatkan kemampuan teknis sebagai seorang ahli data
  • Mengikuti seminar maupun lomba terutama dalam hal yang berkaitan dengan data
  • Memiliki rancangan untuk S2 (latar belakang, tujuan, program studi, dokumen)
  • Melakukan percobaan pertama untuk mendapatkan beasiswa dengan modal nilai TOEFL ITP

09 July 2016

Tagged under: , , ,

Kaleidoskop 2015: Part II


Akhirnya, aku kembali lagi di Life Architecture dengan nama domain baru yaitu emrasy.id setelah selama enam bulan tidak menulis di blog ini. Pasca wisuda Februari 2016, aku disibukkan untuk terjun ke dunia baru pasca kampus. Itulah mengapa, blog ini terbengkalai, dan pada semester dua tahun 2016, aku berniat mengisi kembali blog ini dengan tulisan Life Architecture dan tulisan memukau lainnya.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Kaleidoskop 2015: Part I, kisah perjalanan serta highlight hidupku sepanjang 2015 bagian pertama. Kali ini, aku akan melanjutkan kepingan-kepingan tahun 2015 pada bagian kedua di sini. Enjoy the journey!

PART II 
  1. Olimpiade Nasional Statistika di Jogja
  2. National Statistics Competition di Malang
  3. Prom Night
Olimpiade Nasional Statistika di UGM Yogyakarta
(5 Mei 2015 - 10 Mei 2015)
Indonesia bagian timur yang paling ujung kukunjungi sebelumnya adalah Sumedang. Kali ini, aku diberikan kesempatan untuk memperluas wilayah kunjunganku ke bagian timur. 6 Mei 2015, aku berhasil memperbaharui wilayah kunjunganku di bagian timur yaitu di Yogyakarta. Aku diajak oleh temanku, Herry, untuk menjadi kolega satu tim dalam mengikuti Olimpiade Nasional Statistika yang diadakan di UGM. Satu tim terdiri dari dua orang dan tim yang berasal dari Statistika Unpad ada sebanyak empat tim dengan rincian empat cewek yaitu: Anput, Ami, Lindri, Oci dan empat cowok yaitu: Aku, Fajri, Herry dan Zaenal. Dalam perjalanannya menuju Jogja, Zaenal melakukan perjalanan solo menggunakan sepeda motornya. Sedangkan kami bertujuh menggunakan bus Bandung Express sebagai pemindah menuju Jogja.

Kami berangkat dari Jatinangor pada hari Selasa, 5 Mei 2015. Aku sangat menyukai sensasi menaiki bus malam, karena seolah-olah dibawa terbang ketika kondisi tubuh ini setengah sadar. Namun, di awal perjalanan, bus yang berjalan berbelok-belok membuat kepalaku pusing dan aku pun kesulitan untuk tidur. Berbeda rasanya ketika menggunakan bus melewati jalan Lampung - Palembang yang minim belokan. Barulah, di pertengahan malam ke atas, pasca melewati bukit berbelok-belok, aku bisa tidur tenang meskipun on-off-on-off.

Kami pun sampai di TKP subuh-subuh pada hari Rabu, 6 Mei 2015 di terminal bus bagian utara Jogja yang agak dekat dengan Sleman. Panitia menjemput kami di sana dan langsung mengantar kami ke tempat penginapan milik gubernur Sumatra Utara. Pada pagi harinya, kami langsung berburu makanan di sekitar penginapan. H-1 sebelum ujian dimulai kami habiskan untuk berdiam diri di tempat penginapan sembari belajar mengenai materi-materi yang akan diujikan besok. Aku sudah mencanangkan strategi dengan kolega kompetisiku, Herry. Karena soal yang diujikan adalah pilihan ganda dengan sistem penilaian jika benar mendapat poin +4, salah -2, tidak mengisi 0, aku pun tidak ingin melakukan perjudian dan mengingatkan kepada temanku agar hanya menjawab pertanyaan yang benar-benar yakin saja. Yang benar saja, jika salah -2, padahal pada ujian SBMPTN atau sejenisnya, jika salah -1.

Hari H pertandingan pun dimulai yaitu hari Kamis, 7 Mei 2015. Meskipun bertim, kami mengerjakan soal secara masing-masing dengan soal yang sama, kemudian nilai kami akan dijumlahkan sebagai nilai total tim secara keseluruhan. Artinya, kedua kubu harus memberikan nilai terbaik. Hal tersebut justru menjadi motivasiku, teman satu timku kuanggap rival sendiri sehingga aku mengincar poin tertinggi namun tetap berasaskan hanya menjawab pertanyaan yang benar-benar yakin saja. Hanya 10 tim yang akan maju ke babak berikutnya, dari keseluruhan sekitar 31 tim. Lowongan untuk masuk ke 10 tim terbaik cukup besar yaitu sekitar sepertiga yang akan melaju ke babak berikutnya, apalagi kami membawa empat tim.

Sayangnya, tiada satu tim dari kami yang lolos ke babak berikutnya. Kenyataan yang sangat memahitkan adalah timku hanya membutuhkan empat poin untuk melaju ke babak berikutnya yang setara dengan tidak mengisi dua jawaban yang salah ataupun mendapatkan satu pertanyaan yang benar atau jika lebih baik lagi mendapatkan jawaban yang benar dari jawaban yang salah. Kami berada di peringkat 12 dengan 114 poin bersama dengan peringkat 11 yang juga memiliki poin yang sama. Sedangkan peringkat 10 sampai dengan peringkat 8 mendapatkan poin yang sama 118 poin.

Ami said: "Piala di sebelah minta dipeluk"
Kalimat andai-andai selalu terucap dalam diriku. Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun karena pada dasarnya aku pun bisa disalahkan karena tidak bisa meraih empat poin krusial tersebut. Selain itu, nilai kami berdua bisa dikatakan tidak jauh berbeda. Jika menggunakan sistem peringkat persentil secara parsial, kemudian nilai tersebu dirata-ratakan, kami bisa masuk ke sepuluh besar karena terdapat tim dengan nilai total 118 poin namun secara parsial tidak seimbang yaitu 102 dan 16 poin. Dari 28 soal yang kujawab, hanya 20 soal yang benar, dan 8 lainnya salah, padahal aku sudah bermain "aman" hanya menjawab soal yang benar-benar pasti, kenyataanya banyaknya soal yang kujawab salah pun tidak seperti yang kubayangkan. Kesedihan tentu saja menimpa kami, dan aku menyimpulkan dari sana bahwasannya kata "hampir" memang benar-benar menyakitkan. Kalah tetaplah kalah mau hampir atau tidak, "eleh ya tetap eleh" ujar salah satu temanku di luar kami berdelapan.

Untuk melupakan kekalahan tersebut, kami pun mengagendakan untuk pergi jalan-jalan sejenak di daerah Jogja dan sekitarnya. Pada malam harinya, bersama panitia, kami pergi ke Alun-Alun Kidul dan hanya melewati ramainya Malioboro. Sebelumnya, kami mengunjungi daerah Nol Kilometer Yogyakarta.

Esok harinya, Jumat, 8 Mei 2015, pasca sholat Jumat, kami akan mengunjungi Candi Prambanan di daerah timur Jogja dengan menggunakan Trans Jogja sebagai alat pemindah. Pada hari itu pun, kami pindah dari tempat penginapan yang disediakan panitia ke wisma dekat daerah RSUP Sarjito di Jalan Kesehatan. Pada malam harinya, kami memiliki agenda masing-masing, yang perempuan berkunjung ke Malioboro untuk membeli oleh-oleh dan yang laki-laki pergi menemui teman lamanya masing-masing yang berada di Jogja. Zaenal memiliki agenda yang jauh berbeda dari kami karena dia membawa motor sendiri sehingga fleksibel dan juga dari awal tidak menginap di wisma. Aku pun menyempatkan diri untuk menemui teman satu SMA yang sudah kukenal sejak zaman SD.

Welcome to Candi Prambanan
Jumat, 8 Mei 2015, daerah paling timur Indonesia yang kukunjungi adalah Candi Prambanan
Meratapi kekalahan...
Kami hanya menginap semalam saja di sana dan keesokan harinya, Sabtu, 9 Mei 2015, kami berkunjung ke daerah timur selatan Jogja yaitu berkunjung ke pantai yang bernama Sundak dan Indrayanti dengan menyewa mobil beserta pengendaranya. Dengan begitu, daerah pantai Indrayanti merupakan bagian paling selatan Indonesia yang pernah kukunjungi. Sekaligus menjadi bagian paling barat Indonesia yang pernah kukunjungi pada saat itu. Pantai di Jogja juga merupakan daerah pantai yang ketiga kalinya aku kunjungi di Indonesia setelah pantai utara Jakarta dan pantai di Bangka. Meskipun sudah ketiga kalinya mengunjungi pantai di provinsi yang berbeda, aku belum pernah melihat indahnya matahari terbit maupun terbenam di pantai. Maybe, next time I can see that beauty.

Sabtu, 9 Mei 2015, daerah paling selatan yang kukunjungi adalah pantai-pantai di Jogja
Setelah menikmati pantai, sore harinya kami harus sudah di stasiun Jogja karena kereta yang membawa kami pulang dijadwalkan berangkat pada petang hari. Kami pun sampai di stasiun Kiaracondong, Bandung subuh-subuh keesokan harinya. Empat hari di Jogja cukup membuka mataku untuk terus berjuang lebih baik lagi.

National Statistics Competition di Unibraw Malang
(28 Mei 2015 - 2 Juni 2015)
Aku berkesempatan kembali untuk memperluas wilayah kunjunganku di Indonesia. Kali ini, tempat yang akan kukunjungi adalah Malang, dalam rangka mengikuti lomba NSC di Unibraw. Awalnya, hanya satu tim saja yang akan diberikan bantuan finansial dari jurusan, namun, secara mengejutkan, semua tim termasuk kami, mendapatkan bantuan tersebut. Dari statistika Unpad, ada enam tim yang ikut dengan satu tim terdiri dari dua peserta.

Kami berenam berangkat dari Jatinangor pada sore hari, Kamis, 28 Mei 2015 menggunakan kereta dengan estimasi lama perjalanan sekitar 17 jam. Sekitar jam 9 - 10 pagi, Jumat, 29 Mei 2015, aku pun menghirup udara di kota paling timur yang kukunjungi saat itu yaitu Malang. Kami yang terdiri dari 6 tim atau 12 orang dengan rincian tiga laki-laki dan sembilan perempuan memiliki tempat dan daerah penginapan yang berbeda. Trio laki-laki termasuk diriku menginap di tempat penginapan di luar peserta lainnya yang juga mengikuti kompetisi ini. Sesampainya di tempat penginapan, kami bergegas untuk menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat Jumat dan makan siang di daerah dekat sana.

Pada sore harinya, trio laki-laki bergegas menuju tempat penginapan di mana para peserta berada untuk menikmati nikmatnya sore hari di Malang bersama dengan sembilan rekan kami yang lainnya. Bisa dibilang bahwasannya, kami mencari angin segar sebelum terjun ke arena pertarungan kesokan harinya, Sabtu, 30 Mei 2015. Dari 50 tim yang ikut, hanya 5 tim terbaik yang terpilih menjadi pemenang, atau sekitar 10% dari tim terbaik, dan merupakan pertarungan yang cukup ketat.

Setelah kompetisi berlangsung, sore harinya, kami menikmati hidangan bakso bakar di suatu tempat (entah namanya apa). Sarapan pagi dan siang memang sudah disediakan oleh panitia, jadi kami tidak perlu repot-repot untuk mencari tempat makan pada saat itu. Pengumuman pun dilakukan esok hari (Minggu, 31 Mei 2015) dan aku pun sudah pesimis terhadap performa timku dalam menjawab kasus dalam kompetisi tersebut meskipun hasil analisis yang telah kami lakukan sudah sesuai. Itulah mengapa, aku pun menginap pada malam harinya di apartemen teman masa SMA. Aku pun mencicipi Mi Setan untuk pertama kalinya, it's obviously delicious!


The most delicious food in Malang!
Hari pengumuman tiba, dan aku bergegas dari apartemen teman ke TKP pengumuman. Ada lima tim yang lolos dan sayangnya, tidak ada satu pun tim dari kami yang lolos. Aku gagal untuk membayar kegagalanku saat mengikuti ONS di Jogja sebelumnya. Aku pun merasa memiliki hutang terhadap jurusan statistika bahwasannya tiada satu pun hal yang berarti yang telah kuberikan. Kegagalan yang menghampiriku menunjukkan bahwasannya, aku harus lebih matang dan tenang lagi untuk menghadapi kompetisi-kompetisi berikutnya yang lebih sulit lagi.


Duh! pusing kepala barbie, kalah mulu

Keesokan harinya, Senin, 1 Juni 2015, kami pun kembali pulang ke tanah tempat kami menuntut ilmu tanpa membawa piala apapun. Sebelum itu, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Batu sebelum akhirnya pulang pada sore harinya menggunakan kereta. Tempat spesifik yang kami kunjungi saat itu adalah Coban Rondo, wisata air terjun dan alam yang ada di sana. Batu, seperti halnya Jatinangor, memiliki ciri khas yang sama yaitu sama-sama sejuk dan dingin. 

Welcome to Coban Rondo
Cheers!
Melewati perjalanan kurang lebih 17 jam, aku yakin bahwasannya ada sesuatu yang aku dapatkan selama perjalanan dan berada di daerah Jawa paling timur yang pernah kukunjungi sejauh ini. Kegagalan merupakan pintu yang harus kulewati sebelum bertemu dengan kesuksesan.


Prom Night
(6 Juni 2015)
Prom Night dapat dikatakan sebagai ajang perpisahan Statistika Unpad 2012 sekaligus seremoni dalam menyambut gerbang pintu selanjutnya sebelum lulus, yaitu magang, seminar dan skripsi. Mengikuti tren angkatan sebelumnya, jurusan Statistika Unpad memang lebih cenderung mencetak sarjanawan yang lulus dengan cepat yaitu dengan durasi 3,5 tahun. Oleh karena itu, ajang seperti ini dilakukan lebih cepat sebelum memasuki arena sesungguhnya: skripsi.

Welcome to Prom Night of statunpad12
Acara ini pun berlangsung pada malam hari dan penuh dengan rasa kekeluargan dan keceriaan. Mengusung ala prom, teman-temanku berdandan secara rapi dan memukau! Aku pun hanya berpakaian dengan meminjam kemeja temanku. Keesokan harinya, meskipun mengantuk, kami tetap antusias dalam menjalankan acara berikutnya serta menyelesaikan acara, dengan bersama-sama merasakan dinginya kolam pada pagi hari di sana (Cileunyi).

Sampai jumpa lima tahun mendatang pada tahun 2020!
Lima tahun mendatang dari tahun 2015, yaitu tahun 2020, rencananya kami akan mengadakan reuni akbar. Masa depan memang tidak dapat diprediksi secara absolut dan penuh dengan kejutan yang tidak diduga-duga. Hal tersebut membuatku bertanya-tanya dan penasaran mengenai apa yang aku dan teman-temanku akan capai pada tahun 2020 nanti. Tentu saja, aku berharap dapat menggapai tujuanku dalam lima tahun ini berdasarkan rencana yang tertulis pada halaman Goal
آمِÙŠْÙ†ُ ÙŠَا رَبَّ الْعَالَÙ…ِÙŠْÙ†
I believe that my future will be amazing! The best way for the best future, ever, ever, ever!


To be continued...











29 January 2016

Tagged under: , , ,

Kaleidoskop 2015: Part I


Tahun 2015 sudah berakhir sejak 29 hari yang lalu dan tahun 2016 perlahan memakan bulan-bulan waktuku. Bulan Januari akan segera berakhir. Waktu memang kejam dan berlalu sangat cepat. Oleh karena itu, aku pun harus mengingat betul akan tujuanku dan tetap melakukan aksi yang dapat mendekatkanku kepada tujuan tersebut. Di sini, aku akan menulis rekam jejak mengenai peristiwa di tahun 2015 yang telah kulalui. Bisa dibilang tahun 2015 merupakan tahun yang memberikan peranan besar dalam hidupku. Tahun 2015 memang benar-benar krusial dalam menentukan masa depanku ke depannya. Di tahun 2015, aku mencoba meningkatkan hobi membaca dan menulis. Selain itu, tahun 2015 merupakan penentuan bagiku untuk magang dan skripsi lebih cepat atau tidak.

Here it is, kaleidoskop 2015, rentetan kejadian-kejadian dalam hidupku pada tahun 2015. Aku menulis dengan tujuan untuk mengabadikan masa-masaku. Tulisan ini bakalan super panjang, bahkan bisa menjadi tulisan terpanjang di blog ini, soalnya kejadian-kejadian yang terjadi di tahun 2015 akan ditulis di sini. Bahkan, bisa dibuat satu buku kecil tahun 2015 atau 11 tulisan terpisah. Oleh karena itu, aku akan membaginya menjadi tiga bagian. Berikut ini garis besar secara keseluruhan mengenai kejadian-kejadian di tahun 2015.

PART I
  1. Transformation Holiday
  2. Pasca Liburan
  3. Tes TOEFL Dadakan
  4. Beli HP Baru
PART II 
  1. Olimpiade Nasional Statistika di Jogja
  2. National Statistics Competition di Malang
  3. Prom Night
PART III
  1. Magang di PT Pertamina RU VI Balongan
  2. 3rd Anniversary statunpad & 20th Anniversary of My Birthday
  3. Road of Skripsi
Transformation Holiday 
(Januari 2015 - Februari 2015)
Tahun 2015 dibuka dengan tahun baru (ya iyalah) dan seperti biasa semenjak aku kuliah, orang tuaku selalu ada di setiap tahun baru. Tahun baru 2013 (masih jaman maba) di kawasan Senayan, Jakarta dan berikutnya tahun 2014 hingga 2016 selalu di Bandung. Kala itu, kami menginap di Banana Inn dan jalan-jalan yang dilaksanakan pun adalah "shopping holiday" dengan berkunjung ke Pasar Baru dan Paris van Java serta berdiam diri di dalam hotel wkwkwk.

This photo had been taken by my sister at Holiday Inn
Liburanku di Palembang dihabiskan dengan berdiam diri di rumah, bermain DOTA dengan ditemani serta menemani one of the son of my cousin. Pada liburan kala itu, aku belajar banyak mengenai kehidupan ditinjau dari sisi psikologi dengan membaca berbagai macam artikel dan fenomena dalam ilmu psikolgi. Aku juga rutin melakukan strength training untuk meningkatkan daya tahan dan kesehatan tubuh, dengan diiringi musik-musik penyemangat. Selain itu, aku melakukan pertemuan kecil dengan teman lama dari mulai jenjang SD, SMP hingga SMA.
Play chess with one of the son of my cousin (checkmate dalam kurang lebih lima langkah wkwkwk)
Aku beserta teman SD dan teman SMP yang berada dalam satu jurusan yang sama (double-kill)
Aku beserta teman SMA (XII IPA 4, X.G, XII IPA 4)
Untuk mengisi liburanku, aku juga sempat menyumbang sedikit tenaga dalam acara Try Out SBMPTN yang diselenggarakan Ampera, perkumpulan mahasiswa Palembang yang kuliah di Unpad. Sebenarnya, masih banyak lagi aktivitas lain yang aku lakukan saat liburan seperti mencuci piring, pergi ke warung, dan sebagainya wkwkwkwk. Liburan kala itu merupakan liburan bagiku untuk melakukan instropeksi diri dan menganalisis kelemahanku yang harus kuperbaiki demi menunjang kehidupan masa depan yang lebih baik.

Pasca Liburan
(Februari - Maret 2015)
Aku pulang ke tanah Jatinangor pada tanggal 14 Februari 2015 bersama salah satu teman sekampung halaman. Esok harinya, 15 Februari 2015, aku bersama teman-teman Palembang lainnya mengadakan pertemuan singkat sebagai salam perpisahan teman kami, Fahmi, yang akan berangkat ke Jepang dan tinggal di sana dalam kurun satu tahun dalam rangka mengikuti pertukaran pelajar. Seminggu setelahnya, 20 Februari 2015, orang tuaku kembali mengunjungi Bandung dan kali ini menginap di Holiday Inn. Free Writing resmi diluncurkan pada tanggal 22 Februari 2015 sebagai muara dari pembelajaran yang kuhadapi selama liburan. Aku pun termotivasi oleh buku 59 seconds karya Richard Wiseman yang menyatakan betapa pentingnya menulis rekaman kehidupan dalam menunjang tingkat emosi positif dalam tubuh.

Pertemuan kecil sekaligus salam perpisahan untuk Fahmi a.k.a. Kak Mik (paling kanan)
Pada tanggal 28 Februari 2015, akhirnya, aku bersama anak-anak Statistika Unpad 2012 mewujudkan wacana untuk berlibur dan bersenang-senang bersama setelah sekian lama tertunda. Akhirnya, destinasi yang terpilih adalah Pangalengan dan kegiatan yang cukup menantang adrenalin yang dilakukan adalah rafting. Ini merupakan pengalaman pertama bagiku untuk merasakan sensasi rafting, menuruni sungai berbukit-bukit yang mengalir deras dengan perahu karet.

Foto sebelum rafting bersama tim nomor sekian
Foto sebelum rafting bersama statunpad12
Pada tanggal 6 Maret 2015, aku yang biasanya menetap di Jatinangor, meluncur menuju Serpong dan menginap di hotel Atria bersama ibu dan kakakku. Ibuku ke sana dalam rangka mengemban tugas negara. Sedangkan aku dan kakakku melepas rindu, mengisi akhir minggu dan menjelajah wilayah baru. Kami bermain di pasar modern terdekat yang bernama Sumarecon. Pasar modern tersebut terlihat sangat luas dan megah dibandingkan pasar-pasar modern lain yang aku lihat. Begitu pula dengan wilayah di sana, dengan jalan boulevard yang luas serta tidak padat, sangat kontras dengan Jakarta. Untuk memiliki rumah di sana tentu saja membutuhkan uang bermilyar-milyaran rupiah. Kala itu, kakakku memutuskan untuk membeli HP baru secara online. Kejadian tersebutlah yang mendorongku untuk melakukan pembelian online hingga saat ini.

Sarapan pagi di Serpong, full of serenity and space
Hal di atas adalah kisah-kisahku pasca liburan usai. Dalam kurun waktu empat minggu, intensitas keluar dari Jatinangor sangat tinggi yaitu secara berturut-turut ke Bandung, Bandung lagi, Pangalengan dan Serpong. Sedikit intermezo, menurut hipotesis dan mitos-mitos yang kubuat, IP semesterku akan semakin tinggi apabila aku memiliki intensitas keluar dari Jatinangor yang tinggi. Hal itu terbukti dari IP semester 1 yang merupakan IP tertinggi, mencapai 88,75%. Pada saat semester 1, aku memang sangat sering keluar dari Jatinangor dengan cara pergi ke Bogor, Palembang (pulkam lebaran haji), Jakarta, Depok dan berkali-kali ke Bandung. Hal ini juga berlaku untuk semester 6 dengan IP yang mencapai 87,50% dan merupakan IP kedua tertinggi setelah IP semester 1. Untuk IP semester lainnya, intensitas keluar dari Jatinangor sangatlah sedikit. Itulah mengapa IP semester lainnya hanya berkisar di angka 67,50% hingga 79,50%.
  
Tes TOEFL Dadakan
(14 Maret 2015 - 15 Maret 2015)
Aku terakhir kali mengikuti tes TOEFL sebelumnya saat SMA kelas 1 (tahun 2010) dan nilai yang kuperoleh pun sangat mengenaskan dan tidak memenuhi syarat minimum 450. Nilai yang kudapatkan berada tiga angka di bawah syarat minimum yaiyu 447. Lima tahun kemudian, tahun 2015, aku kembali mencoba mengikuti tes TOEFL secara tidak sengaja. Aku tidak tahu secara persis bagaimana aku terjerumus untuk mengikuti tes TOEFL yang dilaksanakan lembaga bahasa Unpad. Yang pasti, hanya aku dan satu temanku, Rizky, laki-laki statunpad12 yang mengikuti tes TOEFL kala itu. Entahlah, siapa duluan yang mengajak dia atau aku.

Tes dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2015 dan sehari sebelumnya kami mengikuti seminar dan tips-tips dalam menghadapi TOEFL. Sesungguhnya, tes ini tidak bisa dikatakan TOEFL, yang berasal dari institusi resmi ETS. Tes ini hanyalah untuk menguji dan mengukur kemampuan semata. TOEFL yang sah secara internasional adalah TOEFL iBT yang biaya tesnya berjuta-juta rupiah. Sedangkan kami hanya membayar 75 ribu rupiah untuk mengikuti tes ini. Tulisan mengenai TOEFL akan kubahas lebih lanjut dalam tulisan lainnya.

Aku mengikuti tes ini tanpa belajar sama sekali, sama halnya seperti tes TOEFL dari lembaga bahasa Unsri yang aku lakukan 5 tahun lalu. Nilai yang kudapatkan dalam tes ini pun mendapatkan peningkatan 63 poin dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu yaitu 510. Menurutku, hasil tersebut sudah lumayan dalam ruang lingkup bahasa Inggris di dalam negeri. Namun untuk ruang lingkup bahasa Inggris di luar negeri, aku harus berusaha lebih ekstra untuk menyentuh angka 550 ke atas. Aku yakin mampu mendapatkan skor yang lebih tinggi apabila persiapan yang kulakukan sudah matang.

Bukan TOEFL, tapi ELT

Meskipun hanya tes semata, hasil tes ini bisa kugunakan sebagai syarat melamar pekerjaan yang mensyaratkan adanya TOEFL. Meskipun bukan TOEFL asli namun setidaknya dalam ruang lingkup nasional dan melamar pekerjaan dalam negeri, menurutku hasilnya bisa dijadikan sebagai bukti kalau aku bisa berbahasa Inggris. Ke depannya, aku mematok angka 550 ke atas bahkan menyentuh angka 600. Aku pun mempersiapkan diri untuk mengikuti TOEFL iBT resmi dari ETS. Untuk menyentuh angka 600, aku harus mendapatkan skor sebesar 98/120 dalam konversinya ke skor TOEFL iBT.


Beli HP Baru
(17 Maret 2015 - 20 Maret 2015)
Nampaknya, aku sedikit terpengaruh dengan kejadian yang ditimpa kakakku pada tulisan di atas sebelumnya. Dia membeli HP secara online dan hal tersebut memengaruhiku untuk membeli HP baru juga. Untuk cerita lengkap mengenai HP baru yang kubeli beserta sejarahku mengganti-ganti HP dapat dilihat dalam tulisan ini. Aku terkesan membeli HP ini secara mendadak dan tanpa pemikiran yang benar-benar matang. Itulah mengapa, apabila aku ingin mengganti HP baru lagi, aku sudah menentukan tanggal minimal agar aku bisa mengganti lagi yaitu 5 tahun pasca aku mengganti HP ini atau pada tanggal 20 Maret 2020. Soalnya, HP sebelumnya hanya berumur 2 tahun, teknologi memang benar-benar berkembang pesat.

Kontrak kerja dengan OPO hingga 20 Maret 2020, sekarang sudah berumur 303 hari, masih tersisa 1522 hari
Bukan hanya itu, aku pun jadi tertarik untuk melakukan pembelian online yang berawal dari belanja online di situs Lazada hingga akhirnya konsisten belanja online di Tokopedia. Jika dihitung-hitung, mungkin sudah berjuta-juta uang yang aku habiskan untuk belanja online selain membeli HP di atas. Industri e-commerce memang sangat mewabah di tahun 2015 ini dan aku adalah salah satu korbannya. Belanja online memang sangat praktis terutama untuk orang yang malas keluar survei ke toko seperti diriku ini. Mungkin ke depannya, aku akan menulis tulisan khusus mengenai belanja online dan berapa juta uang yang sudah kuhabiskan dari situ beserta rincian biaya pengirimannya.

Continued here





26 January 2016

Tagged under: , , ,

Pindah ke LA (Life Architecture), Arsitektur Kehidupan, Nama Baru

Hai guys! Blog ini sudah berganti nama dari edo-undercover.blogspot.com jadi lifearch.blogspot.com. Gue aktif-aktifnya ngeblog ya pas SMA ketika waktu itu, puncaknya pada tahun 2010, jamannya piala AFF. Kalian bisa liat tulisan gue sebelumnya yang berjudul Transformasi: Simple Plane. Di situ, gue sempet punya semangat nulis lagi dan mengganti titel dari blog gue menjadi Simple Plane. Gue mau ganti URL tapi takut ga kedetek di google. Tulisan itu ditulis pada awal 2014, dan tetep weh “anget-anget tai ayam”. Gue niat nulis lagi tapi nyatanya tulisan yang kebentuk pasca 2014 ga banyak2 amat. Bisa dikatakan transformasi yang gagal wkwkwkwk.

Kali ini gue mau reformasi dan transformasi lagi. Gue mau bikin tulisan-tulisan yang berkaitan dengan hidup gue beserta dunia dan isinya. Gue ga tanggung-tanggung buat ganti URL menjadi lifearch.blogspot.com. Ya, gue kudu mulai lagi dari nol. Lagipula, meskipun menggunakan nama lama, tetep weh ga ada perkembangan. Gue juga sempet pengen bikin wordpress karena temanya yang “stunning” dan bisa jadi laman pribadi gue ke depannya tanpa embel-embel numpang lagi, jadi langsung nama.com.  Tapi, gue ga pingin mulai semuanya bener-bener dari nol lagi. Gue ga pengen terjadi dualisme dalam laman diri gue. Apalagi, gue udah nemuin template yang cocok dan berkhas UI dari Templateism yang nurut gue lumayan.

URL blog lama gue masih ada tautannya karena bisa jadi orang-orang di dunia maya sudah nempel banget sama URL itu. Ketika mereka pergi ke URL tersebut, mereka akan kehilangan arah. Oleh karena itu, gue tetep mempertahankan yang lama sebagai “redirecter” ke laman ini. Jadi, kalo kalian buka URL yang lama, edo-undercover.blogspot.com, secara otomatis, kalian akan menuju laman ini, lifearch.blogspot.com. Hal ini tidak berlaku untuk pengguna smartphone karena tampilan mobile yang bikin skrip untuk “redirect” ga bekerja. Jadi, lu kudu pencet “View Web Version” kalo mau menuju ke laman ini via smartphone kalau melintas dulu di URL yang lama.

Dalam LA alias Life Architecture (bukan Los Angeles yak), gue bakalan nyempetin nulis lebih banyak lagi (wacana lagi hehehe, semoga ini bisa terealisasi). Gue nulis tujuan utamanya ga lain dan ga bukan adalah buat diri gue sendiri, kalo ada pembaca yang merasakan manfaatnya, itu merupakan suatu nilai tambah. Dengan menulis, gue bisa menyampaikan pendapatan via bahasa tulisan yang bersifat imortal. Jadi, apa yang ada dalam pikiran gue bisa diabadikan lewat tulisan. Kalau lewat lisan kan bakalan terbuang begitu saja. Tulisan yang gue tulis juga bakalan jadi indikator perkembangan hidup gue. By the way, gue telah memasuki umur 20 tahun semenjak 121 hari yang lalu. Anyway, memasuki umur 20 tahun is a real changing life di mana gue bakal tumbuh pesat. Kebahagian, kesenangan, kegalauan, ketakutan, ketidakpastian dan tetek-bengeknya bakal ngumpul di masa-masa ini. Sayang kalo gue ga ngerekam dan mengabadikannya dalam tulisan.

Free Writing on my laptop
Ngomong-ngomong tentang tulisan, meskipun gue ga aktif di dunia tulis-menulis pada blogger. Gue tetep aktif kok nulis-nulis ga karuan menggunakan bahasa Indonesia maupun Inggris di laptop pribadi gue. Gue sempat menciptakan laman “Free Writing” di laptop gue yang merupakan tulisan spontan yang amburadul, tidak terencana dan tidak sistematis. Istilahnya, gue nulis langsung aja tanpa ada revisian ataupun kerangka seperti halnya kalo emang lo mau nulis. Gue ngikutin advis dari buku 59 seconds yaitu salah satu agar kita bahagia adalah dengan cara menulis. Gue nulis di situ awalnya buat ngungkapin kegelisahan dan perasaan gue. Terbukti, gue jadi lebih lega dibandingkan kalo gue ga nulis. Kini, sudah tercipta 50ribuan kata dalam kurun waktu hampir setahun dalam laman tersebut dengan tanggal produksi perdana pada 22 Februari 2015.

Di blog gue dengan nama baru dan URL baru di sini, gue juga bakalan nyetor beberapa tulisan terpilih dari “Free Writing” ke blog ini dengan tanggal penulisannya. Pada tulisan-tulisan terbaru sebelumnya, Three Strikes Writing dan The Seventh and the Previous Season berasal dari “Free Writing” serta tanggal penulisannya juga tercatut di sana. Gue juga bakalan nyetor-nyetor tulisan gue yang berasal dari laptop pribadi gue pada laman “Knowledge Writing” maupun laman-laman lainnya dalam Life Architecture di laptop pribadi gue.

Ide Life Architecture sendiri terbangun saat gue magang di Pertamina Balongan pada Agustus yang lalu. Awalnya, LA dibentuk dalam laptop pribadi gue yang berisi mengenai rancangan tersruktur mengenai masa depan gue dan tetek-bengeknya. Akhirnya pada akhir November, LA merambat ke laman pribadi gue. Ini nih, ada sedikit cuplikan menggnakan bahasa Inggris mengenai Life Architecture dari laptop pribadi gue. Gue nulis tulisan ini pas magang ke dalam dokumen MS Word dengan nama “Intro.docx”. Di tulisan ini, gue ngebeberin kenapa nama yang gue kasih adalah “Life Architecture”.
INTRODUCTION TO LIFE ARCHITECTURE 23 August 2015
I open a new section here and I name it “Life Architecture”.
Why “architecure”?
Yes, I have obsessed with the word “architecture” itself. Architecture means an art of building. Generally, architecture means design and structure. In the past, I have ever think to become an architect. When I was a child, I loved to make and design something usually via PC games, Rollercoaster Tycoon. I was surprised by my imagination on that moment. It was full of vivid of life. I was able to create such an art.  However, I never chosed and continued that way and I rather chosed the other path. I am destined to learn statistics. Mathematics which is full of uncertainty identifies me as well.
However, I still fall in love with architecture. I love the art itself. Yes, the art which is full of simplicity and have really good looking. Architecture is a design and structure. Life itself should have a design, preparation, a structure that held a belief for myself to make me steady and ready for the future.  
Life is a game. I have been destined to be I. As I, I have good starting point. I should be very grateful to the Creator. I am so grateful to be born in this era, peace era. I am grateful to be born as Indonesian. It has many cultures that make us different. One but variate and converge to many things.
As a human, I should do my best and all the rest is up to the Creator. Every steps I have overcame, I should prepare well for the better future in the next events. Thus, I created this section to help me create my design of life which contains the plan for my future. I am my own life architect. I design my life to be like what in the future.
Welcome to life architecture!

Intinya, selamat datang di LA, arsitektur kehidupan, yang akan membawa gue ke level kehidupan yang lebih tinggi. Hobi dan kegiatan yang bakalan gue tingkatkan adalah membaca dan menulis. Gue membaca untuk memberi makan otak gue, biar pikiran gue lebih terbuka, dan juga ide-ide cemerlang “Aha moment” bisa berdatangan. Gue menulis buat menjelaskan kembali apa yang gue baca, menceritakan apa yang gue rasain dan sebagai potongan rekaman yang bersifat tahan lama.

Di tulisan berikutnya, gue bakal bikin hesteg-hesteg baru, such as: 
Tulisan panjang lebar yang bakalan coming soon  nanti adalah Kaleidoskop 2015 dan Draw My Life. Kaleidsokop merupakan runtutan kejadian tersorot yang terjadi dari Januari 2015 hingga Desember 2015. Sedangkan Draw My Life (DML) adalah gambaran kehidupan gue sejak lahir hingga sekarang yang disajikan dalam tulisan. Biasanya DML ini disiarkan dalam bentuk video oleh para yutuber tapi gue bakal menyajikannya dengan tulisan.

Itulah dia sedikit pembukaan dari LA di blog ini. Gue harap dengan aktivitas menulis kayak gini gue bisa berkembang lebih jauh lagi. Gue juga ga hanya membaca dan menulis namun juga merasakan betul-betul ranah gersang di luar sana. Masa depan merupakan masa yang penuh dengan ketidakpastian. Fokus untuk masa sekarang itu absolut. Masa lalu adalah pelajaran. Masa depan perlu direncanakan. Arsitektur kehidupan akan menyinari langkah-langkahku di masa sekarang demi pencapaian masa depan.

Let’s meet with my other stunning piece of writing in the future!

23 November 2015

Tagged under: , , , , ,

Three Strikes Writing





tiga sesi tulisan dengan 1601 kata di dalamnya, ditulis pada hari Senin, 10 Agustus 2015 (105 hari yang lalu)

Semester 7 merupakan semester yang sangat krusial untuk dijalani. Tidak semua orang mampu menghadapi kerasnya semester 7. Namun, di dunia kerja nanti kehidupan akan lebih keras. Pengabdian tiap hari terhadap perusahaan dan negara yang benar-benar menguras energi. Kemampuan komunikasi, berpikir dan transportasi sangat dihandalkan dalam dunia pasca kuliah tersebut.

Saat ini, diriku sedang melaksanakan magang di PT Pertamina. Namun, dari hari ke hari aku tidak terlalu mengalami peningkatan. Bersama tiga orang lainnya, kami akan mengerjakan dan melibas habis skripsi pada semester ini. Yang ingin kuketahui adalah apakah mungkin aku mampu menulis berlembar-lembar skripsi yang penuh dengan viskositas.

Aku tidak terlalu pandai menulis ilmiah. Jurnal-jurnal dan buku-buku harus aku tebas. Aku harus bisa menulis dengan gaya bahasaku sendiri yang berdasarkan referensi yang telah aku baca sebelumnya. Skripsi tidak dapat dikerjakan sembarangan. Itulah hasil karyamu. Dari awal hingga akhir, aku harus mampu mengerjakan dengan baik. Antar bab haruslah koheren. Saling sambung-menyambung. Dan juga metode yang kugunakan merupakan metode yang tepat. Bukanlah metode yang sulit namun tidak tepat digunakan.

Hampir seminggu aku berada di sini. Hanya bolak-balik komplek ke sini saja sudah membuatku kelelahan. Padahal aku tidak terlalu berpikir keras untuk menghadapi pekerjaan ini. Bagaimanakah jika aku sudah terjun ke lapangan pekerjaan yang sesungguhnya. Waktu istirahat hanyalah sabtu dan minggu. Dua banding enam hari yang begitu menguras pikiran dan energi.

Dunia perminyakan dan pengolahan minyak merupakan dunia yang penuh dengan kompleksitas. Bukanlah hal yang sederhana. Butuh kerja keras dan pikiran ekstra untuk menghadapi pekerjaan sehari-hari di sini. Komunikasi dan pengertian sangatlah penting untuk dimiliki oleh setiap pegawai. Tidak boleh ada satu angka pun yang hilang. Semuanya harus tertata dengan sempurna dan sesuai dengan realita. Keterbukaan harus dijunjung tinggi.

Aku masih bingung analisis statistika apa yang aku pakai untuk pemecahan masalah yang sebenarnya sudah di-handle oleh orang-orang di sini yang memiliki pengalaman lebih. Aku hanyalah newbie di sini. Butuh sebuah pengarahan. Ilmu statistika itu luas. Banyak metode-metode yang tidak sederhana yang tidak aku ketahui. Ilmuku benar-benar sedikit. Metode apa yang akan kugunakan? 

Permasalahan apa yang akan kuambil? Peramalan atau antrian atau riset operasional. Aku bisa saja meramalkan produksi dengan metode yang ada selanjutnya dari hasil peramalan tersebut dapat dibandingkan dengan rencana STS yang sudah dirapatkan oleh RP dan juga untuk melihat mana yang lebih baik aku bisa melihat MAPE mana yang lebih rendah.

Prosesnya benar-benar kompleks. Dari minyak mentah dari berbagai macam daerah yang dikirimkan menggunakan kapal maupun pipa-pipa atau truk. Selanjutnya akan diproses menjadi minyak menengah dan minyak jadi yang siap dijual. Urusan pencampuran dan segala macamnya merupakan urusan anak teknik: kimia, industri maupun mesin. 

Data yang didapatkan pun sangatlah beragam. Ada data minyak mentah yang masuk ada pula data minyak jadi maupun intermediate yang telah diproses. Selain itu adapula harga-harga minyak mentah, minyak jadi maupun intermediate. Gross margin menunjukkan selish antara harga minyak mentah yang dibeli dengan harga minyak jadi maupun intermediate yang dijual. Pada dasarnya, OR bertugas untuk mendapatkan gross margin yang optimal yaitu dengan modal serendah-rendah mungkin dan juga dengan hasil produksi dengan harga jual setinggi mungkin.

Aplikasi OR, transportasi dan model linear benar-benar krusial dalam divisi ini khususnya divisi Supply Chain. Sedangkan aku tidak terlalu menguasai mata kuliah tersebut. Oleh karena itu, alat statistika yang mungkin aku gunakan adalah ADW dengan metode hierarki. Jadi peramalan yang dilakukan berdasarkan kelompok. Ataupun aku bisa menggunakan Analisis Multivariat dengan menggunakan metode pengelompokkan feeder berdasarkan spesifikasi yang tertera. Selain itu analisis harga minyak mentah dari tiap feeder jangan diabaikan begitu saja.

Mungkin analisis statistika yang aku gunakan bukanlah yang terbaik dan juga tidak terlalu penting untuk dilakukan. Sudah ada tim khusus yang mengatasi hal-hal tersebut. Aku hanya memberikan alternatif. Tulisan yang akan kubuat nantinya merupakan karyaku yang membawaku pergi jauh lebih tinggi. I should give the best and optimal solution, minimize the cost and maximize the revenue, that’s why it’s called industry.

Dunia ini bergerak dinamis. Aku pun harus begitu. Aku di dalam bumi mengalami rotasi yang menyebabkan terjadinya siang dan malam. Aku bersama bumi dan bulan secara simulatan mengelilingi matahari. Dan bersama matahari kami mengelilingi sesuatu bintang atau galaksi yang lebih besar lagi. Aku benar-benar kecil. Pikiranku membawa kemanapun aku pergi. Anugrah Tuhan yang luar biasa terhadap manusia adalah akal yang dimilikinya. Aku tidak akan menyia-nyiakan itu.

Bayangkanlah dalam pikiranku bagaimana proses kompleks ini terjadi. Gunakan akalmu dan rasakanlah betul-betul betapa luar biasanya kompleksnya dunia ini namun semuanya tetap seimbang. Sebuah perfect fit world yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Tidak akan menyalahi aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Ilmu dan pengalamanku benar-benar minim. Baik itu ilmu secara saintis dan sesuai dengan statistika maupun ilmu masyarakat yaitu tentang berhubungan dengan homo sapiens yang diciptakan benar-benar kompleks oleh Sang Pencipta. Aku harus banyak belajar lagi. Buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Bahkan telah diperintahkan dari dulu untuk membaca. 

Janganlah sia-siakan waktu. Karena manusia sebenarnya akan menyesal pada hari nanti karena dilahap oleh waktu yang bergerak sangat kejam. Aku pun harus bisa memanfaatkan waktu dengan seoptimal mungkin. Aku harus menyelesaikan skripsi ini dengan waktu secepat mungkin. Dan selanjutnya diriku ini mampu memberikan manfaat di dunia kerja nanti. Tentu saja, manfaat yang tiada putusnya. Sebuah perspirasi yang substansial.

Aku harus berpikir secara matang, tertata, sesuai dengan sistem. Buku adalah ilmu dari segala ilmu. Aku harus membacanya dengan saksama dan penuh dengan ketulusan. Tulisan yang engkau tulis adalah curahan dan apapun yang ada di kepalamu, apapun yang pernah kaubaca. Aku pun harus bisa mengoperasikan mesin di dunia digital seperti ini. Mesin membuat pekerjaan semakin mudah. Aku harus pandai mengoperasikan komputer dan menjadi fast and furious dengan adanya teknologi tersebut.

Dengan menulis, mindful yang ada dalam diriku benar-benar bercahaya. Diiringi dengan lagu instrumental Tokyo Ghoul membuat diriku merasa bebas bagaikan di awan yang tidak berujung. Jauh tinggi menyerap energi negatif dan mengubahnya menjadi energi positif yang luar biasa. Jariku menari-nari di atas papan ketik laptop yang seolah-olah terus menyuruhku untuk terus bergerak tiada hentinya. This is the real serenity!

Be Mindful, Mindful Writing
Banyak sekali kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku sering kali menyia-nyiakan waktu, tidak menyibukkan diriku untuk bergabung dengan ketidaknyamanan. Aku seharusnya menghilangkan kata “aku” sendiri. Dan saatnya berpikir lebih jauh. Berpikir mengenai orang lain dan kehidupan negara yang sangat kompleks ini.

Sekarang adalah masa-masa be mindful writing. Aku menulis dengan penuh kesadaran bahwa aku sebenarnya hidup. Jari-jari ini menari berirama dengan pikiran dalam kepalaku. Aku harus percaya, percaya akan kemampuanku yang luar biasa. Kemampuan analisisku luar biasa, aku mampu melihat titik yang tidak terlihat dibandingkan yang lain. Berhentilah menjatuhkan dirimu. Pada dasarnya manusia akan merasa envy terhadap manusia lain. Di situlah sisi yang seharusnya aku hilangkan.

Janganlah takut. Inisiatif yang kuat. Keinginan berbuat baik yang masif harus engkau tunjukkan. Tataplah mata seseorang dengan lebih tajam. Tidak sampai menusuk tapi setidaknya membuat mereka terkesima akan bahasa tubuhmu. Engkau seharusnya membebaskan dirimu. Namun tetap dalam ambang batas aturan duniawi. Aku harus bisa melangkah dan tidak selalu mengikuti jalan orang lain. This is my own way,  I have my own idea and path. Yes, our friendship is not restricted only by Indramayu regency. We could explore more. 

Ketepatan dalam analisis diri merupakan kunci kesuksesan. Banyak something hidden di dalam dirimu ini. Beberapa orang sudah menyadari itu. Namun, saatnya kau menggali lebih dalam lagi. Keluar dari zona nyaman itu merupakan life stage. Kehidupan tidak akan selalu sama. Perubahan pasti terjadi. Dan, jika kau ingin mengubah dunia, kau pun harus mengubah dirimu sendiri. Janganlah takut menghadapi ketakutan. Janganlah berasumsi negatif ini dan itu. 

Attached
Aku mampu melepaskan ketergantungan ini. Rasa attached yang berlebihan. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Seharusnya aku bisa mengambil inisiatif. Tanpa pikir panjang, aku mampu berbuat hal positif. Mungkin insan itu merupakan faktor yang mengubahku saat ini. Mengubahku untuk bersifat lebih eksplosif. Namun semuanya perlahan terdegradasi, bahasa kerennya dwindle. Namun, inilah saatnya kau menunjukkan siapa dirimu.

Dengan insan itu, kita berada dalam suatu ikatan. Sebuah regensi identitas yang sangat independen. Aku tidak mampu memberikan sesuatu yang benefisial. Motivasi insan yang meledak-ledak aku harap bisa menjadi kenyataan. Aku harus berusaha ekstra keras untuk mendapatkan hal yang sulit aku dapatkan. Aku masih jauh dalam ambang standar. 

Sampai saat ini tidak ada kenangan digital yang tersimpan. Semuanya hanyalah tersimpan di kepala ini, yang sewaktu-waktu nanti akan hancur. Aku menginginkan sebuah kenangan digital dengan tingkat distansi yang sangat dekat. 

Terjebak dalam viskositas. Insan yang menjadi motivasi pelecut. Aku harus menjadi kaya. Kaya akan ilmu, pikiran, ide, jiwa dan harta. Kaya semuanya. Memberikan manfaat yang sangat benefisial dan tiada putus-putusnya. Mengubah indeks kesenangan insan tersebut terhadap diriku merupakan sesuatu yang substansial.

Aku harap aku bertahap-tahap membuat pemisah tersebut menjadi nol. Hingga saatnya nanti, aku memang menjadi manusia utuh. Manusia yang selayak-layaknya untuk insan yang luar biasa.

Untuk saat ini, aku sedikit melepas. Sedikit saja melepas. Namun variabel motivasi tersebut tidak akan hilang. Yang nomor satu tentunya aku lakukan karena Sang Pencipta. Dan tentu saja semuanya semata-mata karena-Nya. 

Sedikit melepas. Tidak sepenuhnya melepas. Saat ini insan tersebut berada pada zona diriku. Zona yang sulit menjelajah. Jika ya, aku akan membawa ke dunia luar yang penuh dengan tantangan. Mata ini mampu menatap lebih akan indahnya ciptaan Tuhan. Aku akan melebarkan sayapku ke negeri orang untuk menuntut ilmu. Dan aku tidak akan melepas hal tersebut, sang variabel motivasiku. I will not forgot about that.

Jangan banyak omong, kau harus banyak melakukan aksi...
I should improve my foreign language...
I should be active like a nuclear. Bombastic nuclear!
You are one of my motivating variable
I should find my own solution by my own head
Everyday like that. Good idea to resolve your condition.
Red is your suit. To make you flammable. To make you burned all over time.
I was magnetized by the purplish divan
I shoud improve my body and my mind