Followers

07 August 2016

Tagged under: , ,

Mencari Sesuap Nasi: Part I


Pasca lulus dari kampus tercinta, tujuan awalku adalah mencari kerja dan pengalaman terlebih dahulu, sebelum akhirnya pada tahun 2018, aku akan membawa diriku keluar negeri untuk melanjutkan studi S2 demi meningkatkan kapasitansi diri menjadi manusia yang lebih baik. Kamis, 4 Februari 2016 adalah hari di mana aku diwisuda bersama dengan 60-an mahasiswa Statistika Unpad lainnya yang telah lulus dengan durasi 3,5 tahun. Namun, pada dasarnya, aku sudah diresmikan lulus ketika yudisium pada hari Jumat, 15 Januari 2016.

Kala itu, sudah ada dua nama yang dinyatakan bekerja di lembaga pemerintahan BAN-PT. Beberapa temanku yang lainnya pun sudah mencari-cari pekerjaan untuk mengisi kekosongan waktu antara tanggal yudisium dan wisuda selama kurang lebih dua minggu. Aku pun masih menikmati hari-hari nyamanku dengan senantiasa berada dalam rutinitas sehari-hari yang bisa dikatakan tidak menantang.

Beberapa hari pasca wisuda, aku dikejutkan oleh berita baik yang diperoleh dari temanku yang bekerja di salah satu lembaga pemerintahan yang sangat bergengsi, yaitu OJK, sebagai asisten peneliti. Dia pun sudah mulai bekerja sejak Senin, 15 Februari 2016 dan aku pun masih santai-santai saja menanggapi hal itu dengan mengisi hari demi hariku di Jatinangor dengan kenyamanannya yang melekat pada diriku.

Barulah, pada hari Sabtu, 20 Februari, aku keluar dari sarangku bernama Jatinangor dan merencanakan diri untuk menetap di Depok sambil menunggu panggilan pekerjaan di Jakarta yang akan menyahutku sekaligus mengikuti Job Fair UI. Sebelumnya, aku sudah mendapatkan berita bagus bahwasannya aku diundang untuk mengikuti asesmen pertamaku berturut-turut di Tokopedia dan Kadence pada hari Senin, 21 Februari 2016, pagi hari dan siang hari.

Keduanya merupakan pengalaman pertamaku untuk menginjak gedung perkantoran di Jakarta untuk pertama kalinya. Sebelum wisuda, aku sudah mendaftarkan diri di Citilink dan Semen Gresik namun sayangnya untuk nama yang pertama, justru aku hampir saja ditipu untuk berangkat ke Bali sedangkan untuk nama yang kedua, aku sama sekali tidak mendapatkan panggilan padahal aku sudah menyiapkan SKCK dengan meminta kepada orangtua untuk membawakannya saat aku wisuda.

Di Tokopedia, aku mendaftarkan diri sebagai Data Analyst. Pada awalnya, aku sempat risau bagaimana cara menuju ke TKP karena bus APTB Depok – Jakarta tidak kunjung datang ketika aku menunggunya di Jalan Juanda dari sekitar jam 7.20 hingga jam 8 pagi, padahal sudah dijadwalkan bahwasannya aku harus sudah berada di TKP pada jam 9 pagi. Pengambilan keputusan untuk pertama kalinya merupakan ujian bagiku, bagaimana caranya dengan cepat agar sampai ke TKP.

Kakakku memberikan opsi untuk naik Gojek dan melanjutkan via kereta api. Namun, dari stasiun ke TKP, aku harus menaiki kendaraan lain lagi. Oleh karena itu, aku pun memesan Gojek dengan tujuan Pasar Rebo dengan harga sekitar 18-20 ribu rupiah dan kemudian melanjutkan diri menggunakan bis Mayasari Bakti tujuan Jakarta Barat.

Dalam waktu kurang lebih satu jam, aku sudah bisa sampai di TKP dan itu pun, aku harus menunggu selama kurang lebih 30 menit karena ternyata terdapat banyak kandidat lain yang akan diwawancara. Ketika menunggu, aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan kandidat yang berada di sampingku. Dia pun mendaftarkan diri sebagai Data Analyst dan ternyata pengalamannya sebagai pekerja sudah sangat banyak. Dia memberitahuku bahwasannya posisi tersebut diutamakan untuk diisi oleh pelamar yang sudah berpengalaman, sedangkan aku sama sekali belum memiliki pengalaman. Ketika wawancara pun, aku tidak diberikan kasus seperti halnya dia, sehingga aku sangat pesimis akan melanjutkan diri ke tahapan berikutnya.

Pada siangnya, aku menuju gedung Bakrie, tempat di mana kantor Kadence berada. Sebelum itu, aku menyiapkan diri dengan mengisi perut sebelum terjun ke arena pertarungan yang sesungguhnya. Sebagai informasi, aku mendaftar Kadence melalui laman Jobstreet dan mendapatkan panggilan via telepon. Aku tidak mengetahui secara detail apa posisi yang kulamar dan ternyata posisi tersebut lebih mengarah ke management trainee yang mencetak pemimpin-pemimpin dalam perusahaan, bukan seorang analis murni yang bertugas menganalisis data seperti yang kupikirkan. Bersama dengan empat peserta lainnya, aku mengerjakan tes kepribadian singkat dan bahasa Inggris dilanjutkan dengan FGD menggunakan bahasa Inggris dengan suatu kasus tertentu dalam perusahaan. Terlihat kurang menonjol dibandingkan empat kandidat lainnya, membuatku tersingkir dan tidak mendapat panggilan selanjutnya dari perusahaan.

Saat mengikuti Job Fair UI, aku bertemu beberapa kolega pencari pekerja lainnya yaitu Ghufran, Rama, Ipeh, Lisa dan lain-lain. Aku pun hanya menebar CV di beberapa perusahaan saja seperti Garena, Salestock, Mediatrac, Veritrans, JD.id, dan Paragon sedangkan perusahaan seperti Astra, Frisian Flag, maupun Indofood tidak aku telusuri. Alhasil, hanya Paragon dan Salestock yang membawa diriku ke tahapan berikutnya.

Aku mengikuti tes numerik dan verbal pada hari Jumat, 26 Februari 2016 bersama Daniel dan Ipeh. Kami pun berhasil melanjutkan diri untuk saling bunuh di tahapan berikutnya yaitu Tes Koran (apa sih namanya). Aku sebenarnya sudah pernah mengikuti tes ini ketika SMA namun pada saat itu kemampuanku sangat berbeda jauh ketika pasca lulus kuliah. Hal itu pun membawaku lulus ke tahapan selanjutnya yaitu pada tahapan kedua, tes kepribadian. Jujur saja, aku mengikuti tes Paragon tanpa persiapan sama sekali dan terkesan santai dan tidak serius namun aku dikejutkan ketika aku mampu lulus ke tahapan selanjutnya sebagai satu-satunya anak Statistika Unpad 2012.

Hal tersebut membuat kepercayaan diriku meningkat sekaligus membawaku agak sedikit tinggi hati lantas hanya aku lulusan Statistika Unpad 2012 yang mampu melanjutkan ke tahapan berikutnya. Kepercayaan diri tersebut sangat bagus untuk meningkatkan self-esteem yang ada pada diriku bahwasannya aku memiliki potensi yang luar biasa. Namun, kesombongan dan kejumawaan yang ada dalam diriku saat itu mengakhiri perjalananku untuk menjadi bagian dari Paragon sampai tahapan kedua saja, di mana aku gagal dalam tes kepribadian pada tahap itu.

Tiga kali coba, tiga kali gagal sedangkan dua yang tidak termasuk ke dalam tiga tersebut berakhir tanpa ada kelanjutan pasti. Selain Paragon, aku pun mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Sale Stock sebagai Data Scientist. Sebelum bertemu dengan HR secara langsung, aku diberi beberapa persoalan dan kasus dengan menggunakan aplikasi yang belum pernah aku jamahi sebelumnya, yaitu Python. Mau tidak mau, selama tiga hari, aku mempelajari Python secara lebih mendalam. Sayangnya, sebagai pengguna Python pemula, aku gagal melanjutkan diri ke tahapan selanjutnya.

Meskipun kegagalan terus menghampiri, aku masih tetap santai dan tidak terlalu tertekan hingga pada akhirnya aku kembali ke Jatinangor setelah kurang lebih tiga minggu berada di Depok. Aku kembali pada hari Selasa, 8 Maret 2016 dan bertemu dengan teman-temanku serta bermain futsal keesokan harinya dengan mencetak sekitar satu gol. Saat itu, aku sebenarnya tidak ingin kembali ke Jatinangor namun setelah melakukan decision making, aku memutuskan untuk kembali karena aku bisa mendapatkan ijazah serta bertemu dengan teman-teman lama lainnya yang memiliki keuntungan jauh lebih besar dibandingkan jika hanya menetap di Depok saja.

Aku kembali ke Depok pada hari Kamis, 10 Maret 2016 untuk bersiap-siap menuju ke Pulau Lombok untuk merayakan kegagalanku dalam melamar pekerjaan yang ketiga kalinya (Tokopedia, Kadence dan Paragon, tiga lainnya tidak sampai pada tahap pertemuan). Pasca berlibur pun, 14 Maret 2016, aku kembali tidak memiliki arah dan kegiatan sehari-hariku diisi dengan membaca, menulis dan belajar bahasa Inggris.

Berita baik yang mengejutkan datang ketika temanku, Gan Daniel, ingin ke tempat temanku yang lainnya, Herry Sinaga, the fellowship of OJK. Aku sangat terkejut karena dia baru saja kembali ke Padang antara 9 Maret 2016 atau 10 Maret 2016. Sedangkan pada tanggal 20 Maret 2016, dia menanyakan diriku bagaimana algoritma menuju tempat tinggal Herry Sinaga. Ternyata, dia dipanggil untuk menjadi bagian kementerian pariwisata dalam bidang analisis data dan statistik. Pada hari itu pun, dia langsung diterima dan langsung kerja sehingga membuatku sangat terkejut karena dia merupakan orang yang sangat santai dalam urusan pencarian kerja seperti yang dia bilang sendiri dibandingkan teman-temanku yang lain.

Saat berlibur, aku menyempatkan diri untuk menggunakan fasilitas internet di hotel Jayakarta Lombok untukmelamar pekerjaan secara online. Hingga akhirnya, pada tanggal 18 Maret 2016, aku menerima surel panggilan dari Lazada untuk melakukan asesmen sebagai Business Inteligence Analyst. Aku pun mendatangi kantor Lazada di Plaza Agro pada pagi hari dari tempat tinggal Herry Sinaga dengan berjalan kaki sekitar 2 km. Awalnya, aku sudah menyiapkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh sang HR. Namun, tanpa disangka-sangka, justru aku diberikan soal kuantitatif (seperti tes Paragon) dan disuruh menyelesaikan masalah dalam MS Excel dan SQL. Pada hari itu pun, pertama kalinya, aku menggunakan SQL! Meskipun di CV, aku menyebutkan bahwa aku mampu menggunakan SQL namun hanya fungsi yang sangat dasar saja yang kuketahui.

Pasca tes, aku merasa tidak terlalu buruk dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan. Sang HR pun tidak melakukan wawancara mendalam seperti yang kuprediksi sebelumnya dan dia memberitahuku bahwasannya aku akan dipanggil selambat-lambatnya satu minggu dari sekarang. Dia juga menyebutkan bahwasannya user dalam BI adalah ekspat atau orang barat yang berasal dari Rumania.

Kala itu pun, aku mendapatkan kabar gembira, sebuah kesempatan bagiku untuk menjalin pertemanan yang baru serta meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti CL pada tanggal 29-31 Maret 2016 di LPMP. Awalnya, aku belum mengiyakan secara absolut apakah aku akan mengikuti kegiatan tersebut atau tidak karena tanggal 29-31 Maret 2016 bertepatan dengan hari di mana aku akan diberitahu apakah aku akan melanjut ke tahap berikutnya di Lazada. Setelah meninjau ulang, aku mengiyakan untuk mengikuti kegiatan tersebut karena hal tersebut merupakan kesempatan yang berharga bagiku.

Tidak seperti yang kuharapkan, dari tanggal 29-31 Maret 2016, satu minggu setelah mengikuti tes di Lazada, aku belum mendapatkan kabar apapun. Saat itu pun, aku berpikir bahwasannya nomor HP yang kuberikan adalah nomor HP XL yang baru di mana aku tidak menggunakannya lagi. Aku sangat mencemaskan bahwasannya aku tidak dipanggil karena nomor HP yang kuberikan tersebut.

Pasca mengikuti CL, aku pun memutuskan untuk kembali ke Jatinangor dengan tujuan utama temu anggota Chef Data yang diadakan pada hari Minggu, 3 April 2016. Aku menghabiskan waktuku di sana selama satu minggu untuk bersilahrutahmi dengan teman-teman dan bermain futsal bersama meskipun aku tidak bisa mengemas satu gol pun. Tujuan lain yang tidak kalah penting adalah mengambil KTP karena hal tersebut sangat substansial dalam hal melamar pekerjaan. Aku pun menyempatkan diri untuk mengikuti Job Fair ITB pada hari Jumat, 8 April 2016 sebelum mengikuti tes OJK keeseokan harinya di daerah Jakarta Selatan.

Ketika akan mengikuti Job Fair ITB, aku dipanggil via telepon oleh HR Lazada yang kemarin menemuiku, sayangnya aku tidak bisa melanjutkan panggilan tersebut karena berada di tengah situasi kumpul bersama alias mentoring bersama anggota CL dan Kak Ivan di Ngoepdoel Bandung. Akhirnya, aku menunda panggilan dan menjadwalkannya hingga pukul 15.00. Sayangnya, panggilan tidak kunjung masuk dan sekitar pukul 16.00 aku dipanggil kembali namun aku tidak sempat mengangkat. Saat itu, aku benar-benar kesal karena hanya telat sekian menit dalam menjawab panggilan tersebut ketika HP yang kumiliki berada dalam kondisi silent.

Aku sangat menyesalkan hal tersebut dan beralih fokus pada tes OJK keesokan harinya, Sabtu, 9 April 2016. Aku bersama Herry dan Gery pulang bersama menggunakan Uber secara gratis dengan menggunakan voucher pemberian kakak senior. Kami pun menginap bersama di kediaman Herry dan Daniel dan tidur berempat dalam dua ranjang. Keesokan paginya, kami berolahraga melintasi Jalan Sudirman yang tidak dipenuhi kendaraan dari pagi hingga siang (Car Free Day). Perjalanan sampai Monas pun kami libas sepanjang kurang lebih 4 kilometer. Selama di Jakarta, aku tidak pernah melihat Monas hingga akhirnya pada hari Minggu, 10 April 2016, aku menyudahi hal tersebut. Kami pun pulang dengan menggunakan kendaraan publik dan melanjutkan makan pagi di daerah sekitar kediaman Herry.

Hari Senin, 11 April 2016, aku sangat berharap untuk mendapatkan panggilan kembali dari sang HR Lazada. Aku sempat ingin menuliskan surel namun pada saat bersamaan, aku dipanggil dan tiba-tiba panggilan tersebut pun mati secara mendadak. Aku sangat kesal sehingga rencanaku untuk menuliskan surel kepada sang HR pun aku kubur dalam-dalam dengan cara menghapus tulisan demi tulisan yang sudah kusajikan. Aku berpedoman bahwa apabila mereka membutuhkanku, pasti mereka akan memanggilku lagi.

Sayangnya hingga jam 1 siang, tiada panggilan yang masuk ke telepon genggamku. Aku sangat kesal karena berulang-ulang kali gagal dipanggil oleh sang HR, yaitu pada hari Jumat sore yang lalu dan pada hari Minggu pagi karena kesalahan teknis. Pada awalnya, aku sangat pasrah dan berpedoman pada kliseku di paragraf sebelumnya. Aku juga tidak mengharapkan apapun dari perusahaan tersebut karena sebelumnya sudah dijanjikan bahwa aku akan dipanggil satu minggu setelah hari di mana aku melaksanakan tes, nyatanya aku dipanggil dua minggu lebih setelah hari tersebut. Itulah yang membuatku putus asa dan harapanku untuk menjadi bagian tersebut sirna dan penuh dengan ketidaksemangatan.

Pada akhirnya, aku tidak ingin menyerah begitu saja tanpa melakukan aksi maupun respon apapun. Aku menyadari bahwasannya menunggu tanpa ada respon berarti sama saja bunuh diri. Perusahaan tersebut memang membutuhkanku, namun di sisi lain aku juga membutuhkan perusahaan tersebut. Aku harus menghapus ego dalam diri ini dan mencoba untuk terus bergerak aktif. Hal tersebut membuat aksiku berjalan sebagaimana mestinya, yaitu dengan mengirimkan beberapa untaian kata ke surel sang HR dengan dibumbui beberapa kata maaf karena tidak mampu menjawab dua panggilan yang diinisiasinya.

Berkat inisiasiku dalam mengirimkan surel tersebut, aku berhasil mendapatkan panggilan beberapa menit setelah surel tersebut dikirimkan. Percakapan tersebut memakan waktu kurang lebih 10 menit mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan gaji yang akan kudapatkan. Aku tahu bahwasannya aku masih belum pasti untuk diterima di perusahaan tersebut, namun ada sedikit cahaya dan tanda-tanda yang berkata kepadaku akan hal itu. Aku pun diundang untuk bertemu langsung dengan sang user, Daniel Stan dan Claudiu keesokan harinya, 12 April 2016.

Pada dasarnya, banyak hal yang ingin kutanyakan terhadap mereka mengenai pekerjaan dan seluk-beluk yang akan kujalani. Rasa ketidakpuasan menghampiriku dikarenakan aku pun tidak mampu menyampaikan kata demi kata meskipun menjadi orang yang diwawancara, justru mereka yang lebih banyak bicara. Tentu saja, ada beberapa kesalahan yang harus kugarisbawahi yaitu mengenai ketenangan, kemampuan interpersonal dan kepercayaan diri.

Meskipun begitu, sang HR memberikan bocoran bahwasannya mereka sudah setuju dengan diriku beserta kapabilitas dan potensi yang kumiliki. Hingga akhirnya, Kamis, 14 April 2016, kabar baik datang menghampiriku bahwasannya aku diterima menjadi bagian perusahaan tersebut dengan gaji sedikit di atas bottom line yang sudah aku sebutkan kepada mereka. Aku pun mengakhiri masa pengangguranku selama 74 hari pasca wisuda dan melegakan diri dengan menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

Tentu saja, kebahagian menghampiriku dengan sangat cepat dan aku harus menghargai hal tersebut dan memulai pekerjaan secara lebih serius. Hal tersebut merupakan langkah awalku untuk terjun di dunia kerja sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di luar negeri. Perlu digarisbawahi bahwasannya dunia kerja merupakan dunia tempatku menimba ilmu bukan dunia yang hanya fokus untuk mencari uang.

Aku ingin menimba pengalaman, dan menjadi bagian dari perusahaan tersebut merupakan kesempatan yang besar bagiku untuk meningkatkan kemampuan analisis, komputasi, interpersonal dan bahasa Inggris. Aplikasi yang akan fokus untuk kugunakan adalah Excel, R, MySQL, PHP dan QlikView. Sedangkan, dalam keseharian, aku akan menggunakan bahasa Inggris sekaligus tetap terus belajar dari segi membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Aku pun sudah memiliki rencana ke depannya dalam berada di perusahaan ini sebagai bahan bakar yang dapat membantuku mencapai tujuanku yang sesungguhnya yaitu studi di luar negeri dengan beasiswa penuh, pada tahun 2018.

My Unemployment Day in a Nutshell
Keterangan: 
biru (tes/wawancara melamar pekerjaan), ungu (liburan), merah (ke tempat Koso), hijau (Community Leaders 2016)

Date
Details
Januari 2016
Yudisium, Melamar Citilink dan Semen Gresik
4 Februari 2016
Wisuda
18 Februari 2016
Bermain futsal I (3 gol, 2 assist)
20 Februari 2016
Ke Depok mengikuti Job Fair UI
22 Februari 2016
Asesmen awal Tokopedia dan Kadence International
26 Februari 2016
Tes tahap I Paragon dan langsung ke Bogor sore harinya
27 Februari 2016
Kondangan di Aston Bogor dan menginap di Hotel Century Senayan*
28 Februari 2016
Reuni SMAN 2 Palembang (Polri), Pulang ke Depok menggunakan Grab
29 Februari 2016
Tes tahap II Paragon
3 Maret 2016
Tes Data Scientist Salestock
5 Maret 2016
Ke Hotel Acacia dekat Salemba (pertama kali naik angkot ke stasiun)*
6 Maret 2016
Ke GI dahulu sebelum kembali ke Depok menggunakan kereta dan Grab
8 Maret 2016
Kembali ke Jatinangor (Ijazah dan Reuni)
9 Maret 2016
Bermain futsal II (mungkin sekitar 1 gol)
10 Maret 2016
Kembali ke Depok, persiapan ke Lombok
11 Maret 2016
Berangkat ke Lombok, Hotel Jayakarta*
12 Maret 2016
Ke Pantai Kuta Lombok bagian selatan
13 Maret 2016
Ke Pulau Gili, berkeliling menggunakan sepeda
14 Maret 2016
Kembali ke Depok pada pagi harinya
17 Maret 2016
Ke Hotel Amaris Thamrin menggunakan GrabBike gratis*
18 Maret 2016
Ke tempat Herry pagi-pagi, ke Bogor menggunakan kereta
19 Maret 2016
Ke Curug di daerah pinggiran Bogor dengan lama perjalanan 2,5 jam
20 Maret 2016
Kembali ke Depok pada siang harinya, menggunakan GrabBike dari ITC
21 Maret 2016
Ke tempat Herry pada malam harinya, hari pertama Daniel bekerja
22 Maret 2016
Asesmen awal Lazada sebagai Business Intelligence Analyst
24 Maret 2016
Ke rumah Koso di Cinere, menonton Batman vs Superman
25 Maret 2016
Olahraga bersama Koso, sholat Jumat, kembali ke Depok
27 Maret 2016
Membeli sepeda bekas, olahraga di Depok: Juanda dan sekitarnya
29 Maret 2016
Ke Tanjung Barat, hari pertama CL 2016 di LPMP Jakarta Selatan
30 Maret 2016
Hari kedua CL 2016, belajar mengenal diri sendiri dan masalah sekitar
31 Maret 2016
Hari ketiga CL 2016, belajar mengenai pemecahan masalah
1 April 2016
Satu malam tambahan bersama Fajri dan Praja, kembali ke Depok
2 April 2016
Pelatihan di Badr Interactive, siangnya kembali ke Jatinangor
2 April 2016
Makan di kantin Mama yang baru bersama Geng Mawar
3 April 2016
Pertemuan Chef Data, makan siang di Refresh dengan Kang Nur, Fakhri
3 April 2016
Makan malam bersama Cindy dan Ridha di tempat baru mantan Moby
4 April 2016
Makan siang bersama Arum dan Aul di SS, sempat mampir ke kampus
4 April 2016
Makan malam bersama Cindy dan Ridha di Surboy, ada SMP dan Jack
5 April 2016
Makan siang bersama Cindy, Papau dan Ridha di Pujas
6 April 2016
Seminar Papau, main futsal III, nihil gol, Wanda man of the match
6 April 2016
Makan malam bersama Dedep, Fafit dan Ridha di Pujas, ada Papau, dkk.
7 April 2016
Berencana menetap di kosan Daniel namun tidak jadi
8 April 2016
Job Fair ITB, temu CL bersama Kak Ivan, telepon dari HR Lazada (miss)
9 April 2016
Tes OJK, pergi ke IBS bersama Gery pagi hari dari Jatinangor
9 April 2016
Naik Uber gratis ke kediaman Herry dan menetap semalam di sana
10 April 2016
CFD Sudirman bersama Gery dan Herry, ke Monas jalan kaki 4 km
11 April 2016
Telepon dari HR Lazada, wawancara sedikit dalam bahasa Inggris
12 April 2016
Wawancara user Lazada bersama Daniel Stan dan Claudiu
14 April 2016
Mendapatkan tawaran sebagai Data Analyst dari Lazada
18 April 2016
Hari pertama kerja: belajar dasar PHP
My Unemployment Day in a Nutshell Keterangan: biru (tes/wawancara melamar pekerjaan), ungu (liburan), merah (ke tempat Koso), hijau (Community Leaders 2016)
Waktu tunggu: 74 hari (dari tanggal wisuda), 94 hari (dari tanggal yudisium)
Gagal total: Citilink, Semen Gresik, Veritrans
Gagal tes: Paragon, Salestock, OJK
Gagal wawancara/tatap langsung: Tokopedia, Kadence International
Berhasil: Lazada

09 July 2016

Tagged under: , , ,

Kaleidoskop 2015: Part II


Akhirnya, aku kembali lagi di Life Architecture dengan nama domain baru yaitu emrasy.id setelah selama enam bulan tidak menulis di blog ini. Pasca wisuda Februari 2016, aku disibukkan untuk terjun ke dunia baru pasca kampus. Itulah mengapa, blog ini terbengkalai, dan pada semester dua tahun 2016, aku berniat mengisi kembali blog ini dengan tulisan Life Architecture dan tulisan memukau lainnya.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Kaleidoskop 2015: Part I, kisah perjalanan serta highlight hidupku sepanjang 2015 bagian pertama. Kali ini, aku akan melanjutkan kepingan-kepingan tahun 2015 pada bagian kedua di sini. Enjoy the journey!

PART II 
  1. Olimpiade Nasional Statistika di Jogja
  2. National Statistics Competition di Malang
  3. Prom Night
Olimpiade Nasional Statistika di UGM Yogyakarta
(5 Mei 2015 - 10 Mei 2015)
Indonesia bagian timur yang paling ujung kukunjungi sebelumnya adalah Sumedang. Kali ini, aku diberikan kesempatan untuk memperluas wilayah kunjunganku ke bagian timur. 6 Mei 2015, aku berhasil memperbaharui wilayah kunjunganku di bagian timur yaitu di Yogyakarta. Aku diajak oleh temanku, Herry, untuk menjadi kolega satu tim dalam mengikuti Olimpiade Nasional Statistika yang diadakan di UGM. Satu tim terdiri dari dua orang dan tim yang berasal dari Statistika Unpad ada sebanyak empat tim dengan rincian empat cewek yaitu: Anput, Ami, Lindri, Oci dan empat cowok yaitu: Aku, Fajri, Herry dan Zaenal. Dalam perjalanannya menuju Jogja, Zaenal melakukan perjalanan solo menggunakan sepeda motornya. Sedangkan kami bertujuh menggunakan bus Bandung Express sebagai pemindah menuju Jogja.

Kami berangkat dari Jatinangor pada hari Selasa, 5 Mei 2015. Aku sangat menyukai sensasi menaiki bus malam, karena seolah-olah dibawa terbang ketika kondisi tubuh ini setengah sadar. Namun, di awal perjalanan, bus yang berjalan berbelok-belok membuat kepalaku pusing dan aku pun kesulitan untuk tidur. Berbeda rasanya ketika menggunakan bus melewati jalan Lampung - Palembang yang minim belokan. Barulah, di pertengahan malam ke atas, pasca melewati bukit berbelok-belok, aku bisa tidur tenang meskipun on-off-on-off.

Kami pun sampai di TKP subuh-subuh pada hari Rabu, 6 Mei 2015 di terminal bus bagian utara Jogja yang agak dekat dengan Sleman. Panitia menjemput kami di sana dan langsung mengantar kami ke tempat penginapan milik gubernur Sumatra Utara. Pada pagi harinya, kami langsung berburu makanan di sekitar penginapan. H-1 sebelum ujian dimulai kami habiskan untuk berdiam diri di tempat penginapan sembari belajar mengenai materi-materi yang akan diujikan besok. Aku sudah mencanangkan strategi dengan kolega kompetisiku, Herry. Karena soal yang diujikan adalah pilihan ganda dengan sistem penilaian jika benar mendapat poin +4, salah -2, tidak mengisi 0, aku pun tidak ingin melakukan perjudian dan mengingatkan kepada temanku agar hanya menjawab pertanyaan yang benar-benar yakin saja. Yang benar saja, jika salah -2, padahal pada ujian SBMPTN atau sejenisnya, jika salah -1.

Hari H pertandingan pun dimulai yaitu hari Kamis, 7 Mei 2015. Meskipun bertim, kami mengerjakan soal secara masing-masing dengan soal yang sama, kemudian nilai kami akan dijumlahkan sebagai nilai total tim secara keseluruhan. Artinya, kedua kubu harus memberikan nilai terbaik. Hal tersebut justru menjadi motivasiku, teman satu timku kuanggap rival sendiri sehingga aku mengincar poin tertinggi namun tetap berasaskan hanya menjawab pertanyaan yang benar-benar yakin saja. Hanya 10 tim yang akan maju ke babak berikutnya, dari keseluruhan sekitar 31 tim. Lowongan untuk masuk ke 10 tim terbaik cukup besar yaitu sekitar sepertiga yang akan melaju ke babak berikutnya, apalagi kami membawa empat tim.

Sayangnya, tiada satu tim dari kami yang lolos ke babak berikutnya. Kenyataan yang sangat memahitkan adalah timku hanya membutuhkan empat poin untuk melaju ke babak berikutnya yang setara dengan tidak mengisi dua jawaban yang salah ataupun mendapatkan satu pertanyaan yang benar atau jika lebih baik lagi mendapatkan jawaban yang benar dari jawaban yang salah. Kami berada di peringkat 12 dengan 114 poin bersama dengan peringkat 11 yang juga memiliki poin yang sama. Sedangkan peringkat 10 sampai dengan peringkat 8 mendapatkan poin yang sama 118 poin.

Ami said: "Piala di sebelah minta dipeluk"
Kalimat andai-andai selalu terucap dalam diriku. Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun karena pada dasarnya aku pun bisa disalahkan karena tidak bisa meraih empat poin krusial tersebut. Selain itu, nilai kami berdua bisa dikatakan tidak jauh berbeda. Jika menggunakan sistem peringkat persentil secara parsial, kemudian nilai tersebu dirata-ratakan, kami bisa masuk ke sepuluh besar karena terdapat tim dengan nilai total 118 poin namun secara parsial tidak seimbang yaitu 102 dan 16 poin. Dari 28 soal yang kujawab, hanya 20 soal yang benar, dan 8 lainnya salah, padahal aku sudah bermain "aman" hanya menjawab soal yang benar-benar pasti, kenyataanya banyaknya soal yang kujawab salah pun tidak seperti yang kubayangkan. Kesedihan tentu saja menimpa kami, dan aku menyimpulkan dari sana bahwasannya kata "hampir" memang benar-benar menyakitkan. Kalah tetaplah kalah mau hampir atau tidak, "eleh ya tetap eleh" ujar salah satu temanku di luar kami berdelapan.

Untuk melupakan kekalahan tersebut, kami pun mengagendakan untuk pergi jalan-jalan sejenak di daerah Jogja dan sekitarnya. Pada malam harinya, bersama panitia, kami pergi ke Alun-Alun Kidul dan hanya melewati ramainya Malioboro. Sebelumnya, kami mengunjungi daerah Nol Kilometer Yogyakarta.

Esok harinya, Jumat, 8 Mei 2015, pasca sholat Jumat, kami akan mengunjungi Candi Prambanan di daerah timur Jogja dengan menggunakan Trans Jogja sebagai alat pemindah. Pada hari itu pun, kami pindah dari tempat penginapan yang disediakan panitia ke wisma dekat daerah RSUP Sarjito di Jalan Kesehatan. Pada malam harinya, kami memiliki agenda masing-masing, yang perempuan berkunjung ke Malioboro untuk membeli oleh-oleh dan yang laki-laki pergi menemui teman lamanya masing-masing yang berada di Jogja. Zaenal memiliki agenda yang jauh berbeda dari kami karena dia membawa motor sendiri sehingga fleksibel dan juga dari awal tidak menginap di wisma. Aku pun menyempatkan diri untuk menemui teman satu SMA yang sudah kukenal sejak zaman SD.

Welcome to Candi Prambanan
Jumat, 8 Mei 2015, daerah paling timur Indonesia yang kukunjungi adalah Candi Prambanan
Meratapi kekalahan...
Kami hanya menginap semalam saja di sana dan keesokan harinya, Sabtu, 9 Mei 2015, kami berkunjung ke daerah timur selatan Jogja yaitu berkunjung ke pantai yang bernama Sundak dan Indrayanti dengan menyewa mobil beserta pengendaranya. Dengan begitu, daerah pantai Indrayanti merupakan bagian paling selatan Indonesia yang pernah kukunjungi. Sekaligus menjadi bagian paling barat Indonesia yang pernah kukunjungi pada saat itu. Pantai di Jogja juga merupakan daerah pantai yang ketiga kalinya aku kunjungi di Indonesia setelah pantai utara Jakarta dan pantai di Bangka. Meskipun sudah ketiga kalinya mengunjungi pantai di provinsi yang berbeda, aku belum pernah melihat indahnya matahari terbit maupun terbenam di pantai. Maybe, next time I can see that beauty.

Sabtu, 9 Mei 2015, daerah paling selatan yang kukunjungi adalah pantai-pantai di Jogja
Setelah menikmati pantai, sore harinya kami harus sudah di stasiun Jogja karena kereta yang membawa kami pulang dijadwalkan berangkat pada petang hari. Kami pun sampai di stasiun Kiaracondong, Bandung subuh-subuh keesokan harinya. Empat hari di Jogja cukup membuka mataku untuk terus berjuang lebih baik lagi.

National Statistics Competition di Unibraw Malang
(28 Mei 2015 - 2 Juni 2015)
Aku berkesempatan kembali untuk memperluas wilayah kunjunganku di Indonesia. Kali ini, tempat yang akan kukunjungi adalah Malang, dalam rangka mengikuti lomba NSC di Unibraw. Awalnya, hanya satu tim saja yang akan diberikan bantuan finansial dari jurusan, namun, secara mengejutkan, semua tim termasuk kami, mendapatkan bantuan tersebut. Dari statistika Unpad, ada enam tim yang ikut dengan satu tim terdiri dari dua peserta.

Kami berenam berangkat dari Jatinangor pada sore hari, Kamis, 28 Mei 2015 menggunakan kereta dengan estimasi lama perjalanan sekitar 17 jam. Sekitar jam 9 - 10 pagi, Jumat, 29 Mei 2015, aku pun menghirup udara di kota paling timur yang kukunjungi saat itu yaitu Malang. Kami yang terdiri dari 6 tim atau 12 orang dengan rincian tiga laki-laki dan sembilan perempuan memiliki tempat dan daerah penginapan yang berbeda. Trio laki-laki termasuk diriku menginap di tempat penginapan di luar peserta lainnya yang juga mengikuti kompetisi ini. Sesampainya di tempat penginapan, kami bergegas untuk menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat Jumat dan makan siang di daerah dekat sana.

Pada sore harinya, trio laki-laki bergegas menuju tempat penginapan di mana para peserta berada untuk menikmati nikmatnya sore hari di Malang bersama dengan sembilan rekan kami yang lainnya. Bisa dibilang bahwasannya, kami mencari angin segar sebelum terjun ke arena pertarungan kesokan harinya, Sabtu, 30 Mei 2015. Dari 50 tim yang ikut, hanya 5 tim terbaik yang terpilih menjadi pemenang, atau sekitar 10% dari tim terbaik, dan merupakan pertarungan yang cukup ketat.

Setelah kompetisi berlangsung, sore harinya, kami menikmati hidangan bakso bakar di suatu tempat (entah namanya apa). Sarapan pagi dan siang memang sudah disediakan oleh panitia, jadi kami tidak perlu repot-repot untuk mencari tempat makan pada saat itu. Pengumuman pun dilakukan esok hari (Minggu, 31 Mei 2015) dan aku pun sudah pesimis terhadap performa timku dalam menjawab kasus dalam kompetisi tersebut meskipun hasil analisis yang telah kami lakukan sudah sesuai. Itulah mengapa, aku pun menginap pada malam harinya di apartemen teman masa SMA. Aku pun mencicipi Mi Setan untuk pertama kalinya, it's obviously delicious!


The most delicious food in Malang!
Hari pengumuman tiba, dan aku bergegas dari apartemen teman ke TKP pengumuman. Ada lima tim yang lolos dan sayangnya, tidak ada satu pun tim dari kami yang lolos. Aku gagal untuk membayar kegagalanku saat mengikuti ONS di Jogja sebelumnya. Aku pun merasa memiliki hutang terhadap jurusan statistika bahwasannya tiada satu pun hal yang berarti yang telah kuberikan. Kegagalan yang menghampiriku menunjukkan bahwasannya, aku harus lebih matang dan tenang lagi untuk menghadapi kompetisi-kompetisi berikutnya yang lebih sulit lagi.


Duh! pusing kepala barbie, kalah mulu

Keesokan harinya, Senin, 1 Juni 2015, kami pun kembali pulang ke tanah tempat kami menuntut ilmu tanpa membawa piala apapun. Sebelum itu, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Batu sebelum akhirnya pulang pada sore harinya menggunakan kereta. Tempat spesifik yang kami kunjungi saat itu adalah Coban Rondo, wisata air terjun dan alam yang ada di sana. Batu, seperti halnya Jatinangor, memiliki ciri khas yang sama yaitu sama-sama sejuk dan dingin. 

Welcome to Coban Rondo
Cheers!
Melewati perjalanan kurang lebih 17 jam, aku yakin bahwasannya ada sesuatu yang aku dapatkan selama perjalanan dan berada di daerah Jawa paling timur yang pernah kukunjungi sejauh ini. Kegagalan merupakan pintu yang harus kulewati sebelum bertemu dengan kesuksesan.


Prom Night
(6 Juni 2015)
Prom Night dapat dikatakan sebagai ajang perpisahan Statistika Unpad 2012 sekaligus seremoni dalam menyambut gerbang pintu selanjutnya sebelum lulus, yaitu magang, seminar dan skripsi. Mengikuti tren angkatan sebelumnya, jurusan Statistika Unpad memang lebih cenderung mencetak sarjanawan yang lulus dengan cepat yaitu dengan durasi 3,5 tahun. Oleh karena itu, ajang seperti ini dilakukan lebih cepat sebelum memasuki arena sesungguhnya: skripsi.

Welcome to Prom Night of statunpad12
Acara ini pun berlangsung pada malam hari dan penuh dengan rasa kekeluargan dan keceriaan. Mengusung ala prom, teman-temanku berdandan secara rapi dan memukau! Aku pun hanya berpakaian dengan meminjam kemeja temanku. Keesokan harinya, meskipun mengantuk, kami tetap antusias dalam menjalankan acara berikutnya serta menyelesaikan acara, dengan bersama-sama merasakan dinginya kolam pada pagi hari di sana (Cileunyi).

Sampai jumpa lima tahun mendatang pada tahun 2020!
Lima tahun mendatang dari tahun 2015, yaitu tahun 2020, rencananya kami akan mengadakan reuni akbar. Masa depan memang tidak dapat diprediksi secara absolut dan penuh dengan kejutan yang tidak diduga-duga. Hal tersebut membuatku bertanya-tanya dan penasaran mengenai apa yang aku dan teman-temanku akan capai pada tahun 2020 nanti. Tentu saja, aku berharap dapat menggapai tujuanku dalam lima tahun ini berdasarkan rencana yang tertulis pada halaman Goal
آمِÙŠْÙ†ُ ÙŠَا رَبَّ الْعَالَÙ…ِÙŠْÙ†
I believe that my future will be amazing! The best way for the best future, ever, ever, ever!


To be continued...











03 April 2016

Tagged under:

Indonesian Young Generation as Catalyst


Future will be full of challenge for me, as an Indonesian young generation. With education, we can develop and solve complex problems, especially for our country, Indonesia. The fact is that Indonesian young generation will become the future leader who operate our country from many sectors. It is full of question what will Indonesia look like in the future, in 2050 where many countries develop vastly and competition become more stained.

We are catalyst for Indonesia development in the future where global competition is going to be difficult than before. In government sector, we have to examine what kinds of decision making that give better result for our future. Eliminating greed is the best approach and here, education plays it crucial role. Our biggest enemy is ourself who want to make a try or just stagnate in this current position doing nothing significant. Changing our mindset is the first step to decide what kind of our future look like.

Life is hard, especially for us, underdeveloped country, Indonesia where our GDP is not above average and our welfare is not fully health. We are big in size and nature resource but we do not have enough qualified human resource who can manage and transform our nature resource into beneficial value that can give us invincible competitive advantage. Quantity and variety are our challenge where they will be more difficult to manage but it can be our great potency for the future.

Our enemy besides ourself is poverty, corruption and illegal drug. My mission as the future econometrician is reducing poverty by looking from economic data and catch opportunity from it. I learn econometrics with government’s money where its main source come from tax. I do not want to waste this opportunity and my niche is to make this country better, as well as, improve my life quality. With education, I believe we can harness our inadequacy and make great effectivity that can make a significant impact to our country.

I grow because I am passionate to help my country to become better. Dealing with adversity is my challenge and I do not want to stuck in a rut not giving any significant impact to my country. I grow myself from every sectors like mental, health and spiritual. I am an educated man who pursue more knowledge to make this country better. I can not affect people easily and by developing good communication and leadership skill, I am able to persuade people and change their mindset so that it can impact the system in a whole.

Indonesian warrior, you can call me that. I am in a great shape because I feel very terrific. My body is health and my blood carries oxygen that can give me a better insight to solve this world’s adversity. I am catalyst of my country’s triumph and from now on, I do not waste my time doing nothing insignificant. I develop myself, change my core and then make an impact for my country. I state that my main 2016 mission are getting ideal job where I grow exponentially  and getting 535-580 TOEFL ITP score.

By 2018, I learn econometrics in foreign country with full scholarship provided by LPDP. My country aim is Australia or Europe. The next thing that I need to do is researching what kind of university that I will splash in. I have to make rigor and clear study plan and what things that I can do with my master degree knowledge. Nowadays, I just improve my English skill by reading book, learning vocabulary and writing my idea and specific topic. I am gradually changing my mindset and improve my human’s skill so I can communicate effectively to the people. (23/03/2016)

29 January 2016

Tagged under: , , ,

Kaleidoskop 2015: Part I


Tahun 2015 sudah berakhir sejak 29 hari yang lalu dan tahun 2016 perlahan memakan bulan-bulan waktuku. Bulan Januari akan segera berakhir. Waktu memang kejam dan berlalu sangat cepat. Oleh karena itu, aku pun harus mengingat betul akan tujuanku dan tetap melakukan aksi yang dapat mendekatkanku kepada tujuan tersebut. Di sini, aku akan menulis rekam jejak mengenai peristiwa di tahun 2015 yang telah kulalui. Bisa dibilang tahun 2015 merupakan tahun yang memberikan peranan besar dalam hidupku. Tahun 2015 memang benar-benar krusial dalam menentukan masa depanku ke depannya. Di tahun 2015, aku mencoba meningkatkan hobi membaca dan menulis. Selain itu, tahun 2015 merupakan penentuan bagiku untuk magang dan skripsi lebih cepat atau tidak.

Here it is, kaleidoskop 2015, rentetan kejadian-kejadian dalam hidupku pada tahun 2015. Aku menulis dengan tujuan untuk mengabadikan masa-masaku. Tulisan ini bakalan super panjang, bahkan bisa menjadi tulisan terpanjang di blog ini, soalnya kejadian-kejadian yang terjadi di tahun 2015 akan ditulis di sini. Bahkan, bisa dibuat satu buku kecil tahun 2015 atau 11 tulisan terpisah. Oleh karena itu, aku akan membaginya menjadi tiga bagian. Berikut ini garis besar secara keseluruhan mengenai kejadian-kejadian di tahun 2015.

PART I
  1. Transformation Holiday
  2. Pasca Liburan
  3. Tes TOEFL Dadakan
  4. Beli HP Baru
PART II 
  1. Olimpiade Nasional Statistika di Jogja
  2. National Statistics Competition di Malang
  3. Prom Night
PART III
  1. Magang di PT Pertamina RU VI Balongan
  2. 3rd Anniversary statunpad & 20th Anniversary of My Birthday
  3. Road of Skripsi
Transformation Holiday 
(Januari 2015 - Februari 2015)
Tahun 2015 dibuka dengan tahun baru (ya iyalah) dan seperti biasa semenjak aku kuliah, orang tuaku selalu ada di setiap tahun baru. Tahun baru 2013 (masih jaman maba) di kawasan Senayan, Jakarta dan berikutnya tahun 2014 hingga 2016 selalu di Bandung. Kala itu, kami menginap di Banana Inn dan jalan-jalan yang dilaksanakan pun adalah "shopping holiday" dengan berkunjung ke Pasar Baru dan Paris van Java serta berdiam diri di dalam hotel wkwkwk.

This photo had been taken by my sister at Holiday Inn
Liburanku di Palembang dihabiskan dengan berdiam diri di rumah, bermain DOTA dengan ditemani serta menemani one of the son of my cousin. Pada liburan kala itu, aku belajar banyak mengenai kehidupan ditinjau dari sisi psikologi dengan membaca berbagai macam artikel dan fenomena dalam ilmu psikolgi. Aku juga rutin melakukan strength training untuk meningkatkan daya tahan dan kesehatan tubuh, dengan diiringi musik-musik penyemangat. Selain itu, aku melakukan pertemuan kecil dengan teman lama dari mulai jenjang SD, SMP hingga SMA.
Play chess with one of the son of my cousin (checkmate dalam kurang lebih lima langkah wkwkwk)
Aku beserta teman SD dan teman SMP yang berada dalam satu jurusan yang sama (double-kill)
Aku beserta teman SMA (XII IPA 4, X.G, XII IPA 4)
Untuk mengisi liburanku, aku juga sempat menyumbang sedikit tenaga dalam acara Try Out SBMPTN yang diselenggarakan Ampera, perkumpulan mahasiswa Palembang yang kuliah di Unpad. Sebenarnya, masih banyak lagi aktivitas lain yang aku lakukan saat liburan seperti mencuci piring, pergi ke warung, dan sebagainya wkwkwkwk. Liburan kala itu merupakan liburan bagiku untuk melakukan instropeksi diri dan menganalisis kelemahanku yang harus kuperbaiki demi menunjang kehidupan masa depan yang lebih baik.

Pasca Liburan
(Februari - Maret 2015)
Aku pulang ke tanah Jatinangor pada tanggal 14 Februari 2015 bersama salah satu teman sekampung halaman. Esok harinya, 15 Februari 2015, aku bersama teman-teman Palembang lainnya mengadakan pertemuan singkat sebagai salam perpisahan teman kami, Fahmi, yang akan berangkat ke Jepang dan tinggal di sana dalam kurun satu tahun dalam rangka mengikuti pertukaran pelajar. Seminggu setelahnya, 20 Februari 2015, orang tuaku kembali mengunjungi Bandung dan kali ini menginap di Holiday Inn. Free Writing resmi diluncurkan pada tanggal 22 Februari 2015 sebagai muara dari pembelajaran yang kuhadapi selama liburan. Aku pun termotivasi oleh buku 59 seconds karya Richard Wiseman yang menyatakan betapa pentingnya menulis rekaman kehidupan dalam menunjang tingkat emosi positif dalam tubuh.

Pertemuan kecil sekaligus salam perpisahan untuk Fahmi a.k.a. Kak Mik (paling kanan)
Pada tanggal 28 Februari 2015, akhirnya, aku bersama anak-anak Statistika Unpad 2012 mewujudkan wacana untuk berlibur dan bersenang-senang bersama setelah sekian lama tertunda. Akhirnya, destinasi yang terpilih adalah Pangalengan dan kegiatan yang cukup menantang adrenalin yang dilakukan adalah rafting. Ini merupakan pengalaman pertama bagiku untuk merasakan sensasi rafting, menuruni sungai berbukit-bukit yang mengalir deras dengan perahu karet.

Foto sebelum rafting bersama tim nomor sekian
Foto sebelum rafting bersama statunpad12
Pada tanggal 6 Maret 2015, aku yang biasanya menetap di Jatinangor, meluncur menuju Serpong dan menginap di hotel Atria bersama ibu dan kakakku. Ibuku ke sana dalam rangka mengemban tugas negara. Sedangkan aku dan kakakku melepas rindu, mengisi akhir minggu dan menjelajah wilayah baru. Kami bermain di pasar modern terdekat yang bernama Sumarecon. Pasar modern tersebut terlihat sangat luas dan megah dibandingkan pasar-pasar modern lain yang aku lihat. Begitu pula dengan wilayah di sana, dengan jalan boulevard yang luas serta tidak padat, sangat kontras dengan Jakarta. Untuk memiliki rumah di sana tentu saja membutuhkan uang bermilyar-milyaran rupiah. Kala itu, kakakku memutuskan untuk membeli HP baru secara online. Kejadian tersebutlah yang mendorongku untuk melakukan pembelian online hingga saat ini.

Sarapan pagi di Serpong, full of serenity and space
Hal di atas adalah kisah-kisahku pasca liburan usai. Dalam kurun waktu empat minggu, intensitas keluar dari Jatinangor sangat tinggi yaitu secara berturut-turut ke Bandung, Bandung lagi, Pangalengan dan Serpong. Sedikit intermezo, menurut hipotesis dan mitos-mitos yang kubuat, IP semesterku akan semakin tinggi apabila aku memiliki intensitas keluar dari Jatinangor yang tinggi. Hal itu terbukti dari IP semester 1 yang merupakan IP tertinggi, mencapai 88,75%. Pada saat semester 1, aku memang sangat sering keluar dari Jatinangor dengan cara pergi ke Bogor, Palembang (pulkam lebaran haji), Jakarta, Depok dan berkali-kali ke Bandung. Hal ini juga berlaku untuk semester 6 dengan IP yang mencapai 87,50% dan merupakan IP kedua tertinggi setelah IP semester 1. Untuk IP semester lainnya, intensitas keluar dari Jatinangor sangatlah sedikit. Itulah mengapa IP semester lainnya hanya berkisar di angka 67,50% hingga 79,50%.
  
Tes TOEFL Dadakan
(14 Maret 2015 - 15 Maret 2015)
Aku terakhir kali mengikuti tes TOEFL sebelumnya saat SMA kelas 1 (tahun 2010) dan nilai yang kuperoleh pun sangat mengenaskan dan tidak memenuhi syarat minimum 450. Nilai yang kudapatkan berada tiga angka di bawah syarat minimum yaiyu 447. Lima tahun kemudian, tahun 2015, aku kembali mencoba mengikuti tes TOEFL secara tidak sengaja. Aku tidak tahu secara persis bagaimana aku terjerumus untuk mengikuti tes TOEFL yang dilaksanakan lembaga bahasa Unpad. Yang pasti, hanya aku dan satu temanku, Rizky, laki-laki statunpad12 yang mengikuti tes TOEFL kala itu. Entahlah, siapa duluan yang mengajak dia atau aku.

Tes dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2015 dan sehari sebelumnya kami mengikuti seminar dan tips-tips dalam menghadapi TOEFL. Sesungguhnya, tes ini tidak bisa dikatakan TOEFL, yang berasal dari institusi resmi ETS. Tes ini hanyalah untuk menguji dan mengukur kemampuan semata. TOEFL yang sah secara internasional adalah TOEFL iBT yang biaya tesnya berjuta-juta rupiah. Sedangkan kami hanya membayar 75 ribu rupiah untuk mengikuti tes ini. Tulisan mengenai TOEFL akan kubahas lebih lanjut dalam tulisan lainnya.

Aku mengikuti tes ini tanpa belajar sama sekali, sama halnya seperti tes TOEFL dari lembaga bahasa Unsri yang aku lakukan 5 tahun lalu. Nilai yang kudapatkan dalam tes ini pun mendapatkan peningkatan 63 poin dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu yaitu 510. Menurutku, hasil tersebut sudah lumayan dalam ruang lingkup bahasa Inggris di dalam negeri. Namun untuk ruang lingkup bahasa Inggris di luar negeri, aku harus berusaha lebih ekstra untuk menyentuh angka 550 ke atas. Aku yakin mampu mendapatkan skor yang lebih tinggi apabila persiapan yang kulakukan sudah matang.

Bukan TOEFL, tapi ELT

Meskipun hanya tes semata, hasil tes ini bisa kugunakan sebagai syarat melamar pekerjaan yang mensyaratkan adanya TOEFL. Meskipun bukan TOEFL asli namun setidaknya dalam ruang lingkup nasional dan melamar pekerjaan dalam negeri, menurutku hasilnya bisa dijadikan sebagai bukti kalau aku bisa berbahasa Inggris. Ke depannya, aku mematok angka 550 ke atas bahkan menyentuh angka 600. Aku pun mempersiapkan diri untuk mengikuti TOEFL iBT resmi dari ETS. Untuk menyentuh angka 600, aku harus mendapatkan skor sebesar 98/120 dalam konversinya ke skor TOEFL iBT.


Beli HP Baru
(17 Maret 2015 - 20 Maret 2015)
Nampaknya, aku sedikit terpengaruh dengan kejadian yang ditimpa kakakku pada tulisan di atas sebelumnya. Dia membeli HP secara online dan hal tersebut memengaruhiku untuk membeli HP baru juga. Untuk cerita lengkap mengenai HP baru yang kubeli beserta sejarahku mengganti-ganti HP dapat dilihat dalam tulisan ini. Aku terkesan membeli HP ini secara mendadak dan tanpa pemikiran yang benar-benar matang. Itulah mengapa, apabila aku ingin mengganti HP baru lagi, aku sudah menentukan tanggal minimal agar aku bisa mengganti lagi yaitu 5 tahun pasca aku mengganti HP ini atau pada tanggal 20 Maret 2020. Soalnya, HP sebelumnya hanya berumur 2 tahun, teknologi memang benar-benar berkembang pesat.

Kontrak kerja dengan OPO hingga 20 Maret 2020, sekarang sudah berumur 303 hari, masih tersisa 1522 hari
Bukan hanya itu, aku pun jadi tertarik untuk melakukan pembelian online yang berawal dari belanja online di situs Lazada hingga akhirnya konsisten belanja online di Tokopedia. Jika dihitung-hitung, mungkin sudah berjuta-juta uang yang aku habiskan untuk belanja online selain membeli HP di atas. Industri e-commerce memang sangat mewabah di tahun 2015 ini dan aku adalah salah satu korbannya. Belanja online memang sangat praktis terutama untuk orang yang malas keluar survei ke toko seperti diriku ini. Mungkin ke depannya, aku akan menulis tulisan khusus mengenai belanja online dan berapa juta uang yang sudah kuhabiskan dari situ beserta rincian biaya pengirimannya.

Continued here





26 January 2016

Tagged under: , , ,

Pindah ke LA (Life Architecture), Arsitektur Kehidupan, Nama Baru

Hai guys! Blog ini sudah berganti nama dari edo-undercover.blogspot.com jadi lifearch.blogspot.com. Gue aktif-aktifnya ngeblog ya pas SMA ketika waktu itu, puncaknya pada tahun 2010, jamannya piala AFF. Kalian bisa liat tulisan gue sebelumnya yang berjudul Transformasi: Simple Plane. Di situ, gue sempet punya semangat nulis lagi dan mengganti titel dari blog gue menjadi Simple Plane. Gue mau ganti URL tapi takut ga kedetek di google. Tulisan itu ditulis pada awal 2014, dan tetep weh “anget-anget tai ayam”. Gue niat nulis lagi tapi nyatanya tulisan yang kebentuk pasca 2014 ga banyak2 amat. Bisa dikatakan transformasi yang gagal wkwkwkwk.

Kali ini gue mau reformasi dan transformasi lagi. Gue mau bikin tulisan-tulisan yang berkaitan dengan hidup gue beserta dunia dan isinya. Gue ga tanggung-tanggung buat ganti URL menjadi lifearch.blogspot.com. Ya, gue kudu mulai lagi dari nol. Lagipula, meskipun menggunakan nama lama, tetep weh ga ada perkembangan. Gue juga sempet pengen bikin wordpress karena temanya yang “stunning” dan bisa jadi laman pribadi gue ke depannya tanpa embel-embel numpang lagi, jadi langsung nama.com.  Tapi, gue ga pingin mulai semuanya bener-bener dari nol lagi. Gue ga pengen terjadi dualisme dalam laman diri gue. Apalagi, gue udah nemuin template yang cocok dan berkhas UI dari Templateism yang nurut gue lumayan.

URL blog lama gue masih ada tautannya karena bisa jadi orang-orang di dunia maya sudah nempel banget sama URL itu. Ketika mereka pergi ke URL tersebut, mereka akan kehilangan arah. Oleh karena itu, gue tetep mempertahankan yang lama sebagai “redirecter” ke laman ini. Jadi, kalo kalian buka URL yang lama, edo-undercover.blogspot.com, secara otomatis, kalian akan menuju laman ini, lifearch.blogspot.com. Hal ini tidak berlaku untuk pengguna smartphone karena tampilan mobile yang bikin skrip untuk “redirect” ga bekerja. Jadi, lu kudu pencet “View Web Version” kalo mau menuju ke laman ini via smartphone kalau melintas dulu di URL yang lama.

Dalam LA alias Life Architecture (bukan Los Angeles yak), gue bakalan nyempetin nulis lebih banyak lagi (wacana lagi hehehe, semoga ini bisa terealisasi). Gue nulis tujuan utamanya ga lain dan ga bukan adalah buat diri gue sendiri, kalo ada pembaca yang merasakan manfaatnya, itu merupakan suatu nilai tambah. Dengan menulis, gue bisa menyampaikan pendapatan via bahasa tulisan yang bersifat imortal. Jadi, apa yang ada dalam pikiran gue bisa diabadikan lewat tulisan. Kalau lewat lisan kan bakalan terbuang begitu saja. Tulisan yang gue tulis juga bakalan jadi indikator perkembangan hidup gue. By the way, gue telah memasuki umur 20 tahun semenjak 121 hari yang lalu. Anyway, memasuki umur 20 tahun is a real changing life di mana gue bakal tumbuh pesat. Kebahagian, kesenangan, kegalauan, ketakutan, ketidakpastian dan tetek-bengeknya bakal ngumpul di masa-masa ini. Sayang kalo gue ga ngerekam dan mengabadikannya dalam tulisan.

Free Writing on my laptop
Ngomong-ngomong tentang tulisan, meskipun gue ga aktif di dunia tulis-menulis pada blogger. Gue tetep aktif kok nulis-nulis ga karuan menggunakan bahasa Indonesia maupun Inggris di laptop pribadi gue. Gue sempat menciptakan laman “Free Writing” di laptop gue yang merupakan tulisan spontan yang amburadul, tidak terencana dan tidak sistematis. Istilahnya, gue nulis langsung aja tanpa ada revisian ataupun kerangka seperti halnya kalo emang lo mau nulis. Gue ngikutin advis dari buku 59 seconds yaitu salah satu agar kita bahagia adalah dengan cara menulis. Gue nulis di situ awalnya buat ngungkapin kegelisahan dan perasaan gue. Terbukti, gue jadi lebih lega dibandingkan kalo gue ga nulis. Kini, sudah tercipta 50ribuan kata dalam kurun waktu hampir setahun dalam laman tersebut dengan tanggal produksi perdana pada 22 Februari 2015.

Di blog gue dengan nama baru dan URL baru di sini, gue juga bakalan nyetor beberapa tulisan terpilih dari “Free Writing” ke blog ini dengan tanggal penulisannya. Pada tulisan-tulisan terbaru sebelumnya, Three Strikes Writing dan The Seventh and the Previous Season berasal dari “Free Writing” serta tanggal penulisannya juga tercatut di sana. Gue juga bakalan nyetor-nyetor tulisan gue yang berasal dari laptop pribadi gue pada laman “Knowledge Writing” maupun laman-laman lainnya dalam Life Architecture di laptop pribadi gue.

Ide Life Architecture sendiri terbangun saat gue magang di Pertamina Balongan pada Agustus yang lalu. Awalnya, LA dibentuk dalam laptop pribadi gue yang berisi mengenai rancangan tersruktur mengenai masa depan gue dan tetek-bengeknya. Akhirnya pada akhir November, LA merambat ke laman pribadi gue. Ini nih, ada sedikit cuplikan menggnakan bahasa Inggris mengenai Life Architecture dari laptop pribadi gue. Gue nulis tulisan ini pas magang ke dalam dokumen MS Word dengan nama “Intro.docx”. Di tulisan ini, gue ngebeberin kenapa nama yang gue kasih adalah “Life Architecture”.
INTRODUCTION TO LIFE ARCHITECTURE 23 August 2015
I open a new section here and I name it “Life Architecture”.
Why “architecure”?
Yes, I have obsessed with the word “architecture” itself. Architecture means an art of building. Generally, architecture means design and structure. In the past, I have ever think to become an architect. When I was a child, I loved to make and design something usually via PC games, Rollercoaster Tycoon. I was surprised by my imagination on that moment. It was full of vivid of life. I was able to create such an art.  However, I never chosed and continued that way and I rather chosed the other path. I am destined to learn statistics. Mathematics which is full of uncertainty identifies me as well.
However, I still fall in love with architecture. I love the art itself. Yes, the art which is full of simplicity and have really good looking. Architecture is a design and structure. Life itself should have a design, preparation, a structure that held a belief for myself to make me steady and ready for the future.  
Life is a game. I have been destined to be I. As I, I have good starting point. I should be very grateful to the Creator. I am so grateful to be born in this era, peace era. I am grateful to be born as Indonesian. It has many cultures that make us different. One but variate and converge to many things.
As a human, I should do my best and all the rest is up to the Creator. Every steps I have overcame, I should prepare well for the better future in the next events. Thus, I created this section to help me create my design of life which contains the plan for my future. I am my own life architect. I design my life to be like what in the future.
Welcome to life architecture!

Intinya, selamat datang di LA, arsitektur kehidupan, yang akan membawa gue ke level kehidupan yang lebih tinggi. Hobi dan kegiatan yang bakalan gue tingkatkan adalah membaca dan menulis. Gue membaca untuk memberi makan otak gue, biar pikiran gue lebih terbuka, dan juga ide-ide cemerlang “Aha moment” bisa berdatangan. Gue menulis buat menjelaskan kembali apa yang gue baca, menceritakan apa yang gue rasain dan sebagai potongan rekaman yang bersifat tahan lama.

Di tulisan berikutnya, gue bakal bikin hesteg-hesteg baru, such as: 
Tulisan panjang lebar yang bakalan coming soon  nanti adalah Kaleidoskop 2015 dan Draw My Life. Kaleidsokop merupakan runtutan kejadian tersorot yang terjadi dari Januari 2015 hingga Desember 2015. Sedangkan Draw My Life (DML) adalah gambaran kehidupan gue sejak lahir hingga sekarang yang disajikan dalam tulisan. Biasanya DML ini disiarkan dalam bentuk video oleh para yutuber tapi gue bakal menyajikannya dengan tulisan.

Itulah dia sedikit pembukaan dari LA di blog ini. Gue harap dengan aktivitas menulis kayak gini gue bisa berkembang lebih jauh lagi. Gue juga ga hanya membaca dan menulis namun juga merasakan betul-betul ranah gersang di luar sana. Masa depan merupakan masa yang penuh dengan ketidakpastian. Fokus untuk masa sekarang itu absolut. Masa lalu adalah pelajaran. Masa depan perlu direncanakan. Arsitektur kehidupan akan menyinari langkah-langkahku di masa sekarang demi pencapaian masa depan.

Let’s meet with my other stunning piece of writing in the future!