Followers

07 August 2016

Tagged under: , ,

Mencari Sesuap Nasi: Part I


Pasca lulus dari kampus tercinta, tujuan awalku adalah mencari kerja dan pengalaman terlebih dahulu, sebelum akhirnya pada tahun 2018, aku akan membawa diriku keluar negeri untuk melanjutkan studi S2 demi meningkatkan kapasitansi diri menjadi manusia yang lebih baik. Kamis, 4 Februari 2016 adalah hari di mana aku diwisuda bersama dengan 60-an mahasiswa Statistika Unpad lainnya yang telah lulus dengan durasi 3,5 tahun. Namun, pada dasarnya, aku sudah diresmikan lulus ketika yudisium pada hari Jumat, 15 Januari 2016.

Kala itu, sudah ada dua nama yang dinyatakan bekerja di lembaga pemerintahan BAN-PT. Beberapa temanku yang lainnya pun sudah mencari-cari pekerjaan untuk mengisi kekosongan waktu antara tanggal yudisium dan wisuda selama kurang lebih dua minggu. Aku pun masih menikmati hari-hari nyamanku dengan senantiasa berada dalam rutinitas sehari-hari yang bisa dikatakan tidak menantang.

Beberapa hari pasca wisuda, aku dikejutkan oleh berita baik yang diperoleh dari temanku yang bekerja di salah satu lembaga pemerintahan yang sangat bergengsi, yaitu OJK, sebagai asisten peneliti. Dia pun sudah mulai bekerja sejak Senin, 15 Februari 2016 dan aku pun masih santai-santai saja menanggapi hal itu dengan mengisi hari demi hariku di Jatinangor dengan kenyamanannya yang melekat pada diriku.

Barulah, pada hari Sabtu, 20 Februari, aku keluar dari sarangku bernama Jatinangor dan merencanakan diri untuk menetap di Depok sambil menunggu panggilan pekerjaan di Jakarta yang akan menyahutku sekaligus mengikuti Job Fair UI. Sebelumnya, aku sudah mendapatkan berita bagus bahwasannya aku diundang untuk mengikuti asesmen pertamaku berturut-turut di Tokopedia dan Kadence pada hari Senin, 21 Februari 2016, pagi hari dan siang hari.

Keduanya merupakan pengalaman pertamaku untuk menginjak gedung perkantoran di Jakarta untuk pertama kalinya. Sebelum wisuda, aku sudah mendaftarkan diri di Citilink dan Semen Gresik namun sayangnya untuk nama yang pertama, justru aku hampir saja ditipu untuk berangkat ke Bali sedangkan untuk nama yang kedua, aku sama sekali tidak mendapatkan panggilan padahal aku sudah menyiapkan SKCK dengan meminta kepada orangtua untuk membawakannya saat aku wisuda.

Di Tokopedia, aku mendaftarkan diri sebagai Data Analyst. Pada awalnya, aku sempat risau bagaimana cara menuju ke TKP karena bus APTB Depok – Jakarta tidak kunjung datang ketika aku menunggunya di Jalan Juanda dari sekitar jam 7.20 hingga jam 8 pagi, padahal sudah dijadwalkan bahwasannya aku harus sudah berada di TKP pada jam 9 pagi. Pengambilan keputusan untuk pertama kalinya merupakan ujian bagiku, bagaimana caranya dengan cepat agar sampai ke TKP.

Kakakku memberikan opsi untuk naik Gojek dan melanjutkan via kereta api. Namun, dari stasiun ke TKP, aku harus menaiki kendaraan lain lagi. Oleh karena itu, aku pun memesan Gojek dengan tujuan Pasar Rebo dengan harga sekitar 18-20 ribu rupiah dan kemudian melanjutkan diri menggunakan bis Mayasari Bakti tujuan Jakarta Barat.

Dalam waktu kurang lebih satu jam, aku sudah bisa sampai di TKP dan itu pun, aku harus menunggu selama kurang lebih 30 menit karena ternyata terdapat banyak kandidat lain yang akan diwawancara. Ketika menunggu, aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan kandidat yang berada di sampingku. Dia pun mendaftarkan diri sebagai Data Analyst dan ternyata pengalamannya sebagai pekerja sudah sangat banyak. Dia memberitahuku bahwasannya posisi tersebut diutamakan untuk diisi oleh pelamar yang sudah berpengalaman, sedangkan aku sama sekali belum memiliki pengalaman. Ketika wawancara pun, aku tidak diberikan kasus seperti halnya dia, sehingga aku sangat pesimis akan melanjutkan diri ke tahapan berikutnya.

Pada siangnya, aku menuju gedung Bakrie, tempat di mana kantor Kadence berada. Sebelum itu, aku menyiapkan diri dengan mengisi perut sebelum terjun ke arena pertarungan yang sesungguhnya. Sebagai informasi, aku mendaftar Kadence melalui laman Jobstreet dan mendapatkan panggilan via telepon. Aku tidak mengetahui secara detail apa posisi yang kulamar dan ternyata posisi tersebut lebih mengarah ke management trainee yang mencetak pemimpin-pemimpin dalam perusahaan, bukan seorang analis murni yang bertugas menganalisis data seperti yang kupikirkan. Bersama dengan empat peserta lainnya, aku mengerjakan tes kepribadian singkat dan bahasa Inggris dilanjutkan dengan FGD menggunakan bahasa Inggris dengan suatu kasus tertentu dalam perusahaan. Terlihat kurang menonjol dibandingkan empat kandidat lainnya, membuatku tersingkir dan tidak mendapat panggilan selanjutnya dari perusahaan.

Saat mengikuti Job Fair UI, aku bertemu beberapa kolega pencari pekerja lainnya yaitu Ghufran, Rama, Ipeh, Lisa dan lain-lain. Aku pun hanya menebar CV di beberapa perusahaan saja seperti Garena, Salestock, Mediatrac, Veritrans, JD.id, dan Paragon sedangkan perusahaan seperti Astra, Frisian Flag, maupun Indofood tidak aku telusuri. Alhasil, hanya Paragon dan Salestock yang membawa diriku ke tahapan berikutnya.

Aku mengikuti tes numerik dan verbal pada hari Jumat, 26 Februari 2016 bersama Daniel dan Ipeh. Kami pun berhasil melanjutkan diri untuk saling bunuh di tahapan berikutnya yaitu Tes Koran (apa sih namanya). Aku sebenarnya sudah pernah mengikuti tes ini ketika SMA namun pada saat itu kemampuanku sangat berbeda jauh ketika pasca lulus kuliah. Hal itu pun membawaku lulus ke tahapan selanjutnya yaitu pada tahapan kedua, tes kepribadian. Jujur saja, aku mengikuti tes Paragon tanpa persiapan sama sekali dan terkesan santai dan tidak serius namun aku dikejutkan ketika aku mampu lulus ke tahapan selanjutnya sebagai satu-satunya anak Statistika Unpad 2012.

Hal tersebut membuat kepercayaan diriku meningkat sekaligus membawaku agak sedikit tinggi hati lantas hanya aku lulusan Statistika Unpad 2012 yang mampu melanjutkan ke tahapan berikutnya. Kepercayaan diri tersebut sangat bagus untuk meningkatkan self-esteem yang ada pada diriku bahwasannya aku memiliki potensi yang luar biasa. Namun, kesombongan dan kejumawaan yang ada dalam diriku saat itu mengakhiri perjalananku untuk menjadi bagian dari Paragon sampai tahapan kedua saja, di mana aku gagal dalam tes kepribadian pada tahap itu.

Tiga kali coba, tiga kali gagal sedangkan dua yang tidak termasuk ke dalam tiga tersebut berakhir tanpa ada kelanjutan pasti. Selain Paragon, aku pun mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Sale Stock sebagai Data Scientist. Sebelum bertemu dengan HR secara langsung, aku diberi beberapa persoalan dan kasus dengan menggunakan aplikasi yang belum pernah aku jamahi sebelumnya, yaitu Python. Mau tidak mau, selama tiga hari, aku mempelajari Python secara lebih mendalam. Sayangnya, sebagai pengguna Python pemula, aku gagal melanjutkan diri ke tahapan selanjutnya.

Meskipun kegagalan terus menghampiri, aku masih tetap santai dan tidak terlalu tertekan hingga pada akhirnya aku kembali ke Jatinangor setelah kurang lebih tiga minggu berada di Depok. Aku kembali pada hari Selasa, 8 Maret 2016 dan bertemu dengan teman-temanku serta bermain futsal keesokan harinya dengan mencetak sekitar satu gol. Saat itu, aku sebenarnya tidak ingin kembali ke Jatinangor namun setelah melakukan decision making, aku memutuskan untuk kembali karena aku bisa mendapatkan ijazah serta bertemu dengan teman-teman lama lainnya yang memiliki keuntungan jauh lebih besar dibandingkan jika hanya menetap di Depok saja.

Aku kembali ke Depok pada hari Kamis, 10 Maret 2016 untuk bersiap-siap menuju ke Pulau Lombok untuk merayakan kegagalanku dalam melamar pekerjaan yang ketiga kalinya (Tokopedia, Kadence dan Paragon, tiga lainnya tidak sampai pada tahap pertemuan). Pasca berlibur pun, 14 Maret 2016, aku kembali tidak memiliki arah dan kegiatan sehari-hariku diisi dengan membaca, menulis dan belajar bahasa Inggris.

Berita baik yang mengejutkan datang ketika temanku, Gan Daniel, ingin ke tempat temanku yang lainnya, Herry Sinaga, the fellowship of OJK. Aku sangat terkejut karena dia baru saja kembali ke Padang antara 9 Maret 2016 atau 10 Maret 2016. Sedangkan pada tanggal 20 Maret 2016, dia menanyakan diriku bagaimana algoritma menuju tempat tinggal Herry Sinaga. Ternyata, dia dipanggil untuk menjadi bagian kementerian pariwisata dalam bidang analisis data dan statistik. Pada hari itu pun, dia langsung diterima dan langsung kerja sehingga membuatku sangat terkejut karena dia merupakan orang yang sangat santai dalam urusan pencarian kerja seperti yang dia bilang sendiri dibandingkan teman-temanku yang lain.

Saat berlibur, aku menyempatkan diri untuk menggunakan fasilitas internet di hotel Jayakarta Lombok untukmelamar pekerjaan secara online. Hingga akhirnya, pada tanggal 18 Maret 2016, aku menerima surel panggilan dari Lazada untuk melakukan asesmen sebagai Business Inteligence Analyst. Aku pun mendatangi kantor Lazada di Plaza Agro pada pagi hari dari tempat tinggal Herry Sinaga dengan berjalan kaki sekitar 2 km. Awalnya, aku sudah menyiapkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh sang HR. Namun, tanpa disangka-sangka, justru aku diberikan soal kuantitatif (seperti tes Paragon) dan disuruh menyelesaikan masalah dalam MS Excel dan SQL. Pada hari itu pun, pertama kalinya, aku menggunakan SQL! Meskipun di CV, aku menyebutkan bahwa aku mampu menggunakan SQL namun hanya fungsi yang sangat dasar saja yang kuketahui.

Pasca tes, aku merasa tidak terlalu buruk dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan. Sang HR pun tidak melakukan wawancara mendalam seperti yang kuprediksi sebelumnya dan dia memberitahuku bahwasannya aku akan dipanggil selambat-lambatnya satu minggu dari sekarang. Dia juga menyebutkan bahwasannya user dalam BI adalah ekspat atau orang barat yang berasal dari Rumania.

Kala itu pun, aku mendapatkan kabar gembira, sebuah kesempatan bagiku untuk menjalin pertemanan yang baru serta meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti CL pada tanggal 29-31 Maret 2016 di LPMP. Awalnya, aku belum mengiyakan secara absolut apakah aku akan mengikuti kegiatan tersebut atau tidak karena tanggal 29-31 Maret 2016 bertepatan dengan hari di mana aku akan diberitahu apakah aku akan melanjut ke tahap berikutnya di Lazada. Setelah meninjau ulang, aku mengiyakan untuk mengikuti kegiatan tersebut karena hal tersebut merupakan kesempatan yang berharga bagiku.

Tidak seperti yang kuharapkan, dari tanggal 29-31 Maret 2016, satu minggu setelah mengikuti tes di Lazada, aku belum mendapatkan kabar apapun. Saat itu pun, aku berpikir bahwasannya nomor HP yang kuberikan adalah nomor HP XL yang baru di mana aku tidak menggunakannya lagi. Aku sangat mencemaskan bahwasannya aku tidak dipanggil karena nomor HP yang kuberikan tersebut.

Pasca mengikuti CL, aku pun memutuskan untuk kembali ke Jatinangor dengan tujuan utama temu anggota Chef Data yang diadakan pada hari Minggu, 3 April 2016. Aku menghabiskan waktuku di sana selama satu minggu untuk bersilahrutahmi dengan teman-teman dan bermain futsal bersama meskipun aku tidak bisa mengemas satu gol pun. Tujuan lain yang tidak kalah penting adalah mengambil KTP karena hal tersebut sangat substansial dalam hal melamar pekerjaan. Aku pun menyempatkan diri untuk mengikuti Job Fair ITB pada hari Jumat, 8 April 2016 sebelum mengikuti tes OJK keeseokan harinya di daerah Jakarta Selatan.

Ketika akan mengikuti Job Fair ITB, aku dipanggil via telepon oleh HR Lazada yang kemarin menemuiku, sayangnya aku tidak bisa melanjutkan panggilan tersebut karena berada di tengah situasi kumpul bersama alias mentoring bersama anggota CL dan Kak Ivan di Ngoepdoel Bandung. Akhirnya, aku menunda panggilan dan menjadwalkannya hingga pukul 15.00. Sayangnya, panggilan tidak kunjung masuk dan sekitar pukul 16.00 aku dipanggil kembali namun aku tidak sempat mengangkat. Saat itu, aku benar-benar kesal karena hanya telat sekian menit dalam menjawab panggilan tersebut ketika HP yang kumiliki berada dalam kondisi silent.

Aku sangat menyesalkan hal tersebut dan beralih fokus pada tes OJK keesokan harinya, Sabtu, 9 April 2016. Aku bersama Herry dan Gery pulang bersama menggunakan Uber secara gratis dengan menggunakan voucher pemberian kakak senior. Kami pun menginap bersama di kediaman Herry dan Daniel dan tidur berempat dalam dua ranjang. Keesokan paginya, kami berolahraga melintasi Jalan Sudirman yang tidak dipenuhi kendaraan dari pagi hingga siang (Car Free Day). Perjalanan sampai Monas pun kami libas sepanjang kurang lebih 4 kilometer. Selama di Jakarta, aku tidak pernah melihat Monas hingga akhirnya pada hari Minggu, 10 April 2016, aku menyudahi hal tersebut. Kami pun pulang dengan menggunakan kendaraan publik dan melanjutkan makan pagi di daerah sekitar kediaman Herry.

Hari Senin, 11 April 2016, aku sangat berharap untuk mendapatkan panggilan kembali dari sang HR Lazada. Aku sempat ingin menuliskan surel namun pada saat bersamaan, aku dipanggil dan tiba-tiba panggilan tersebut pun mati secara mendadak. Aku sangat kesal sehingga rencanaku untuk menuliskan surel kepada sang HR pun aku kubur dalam-dalam dengan cara menghapus tulisan demi tulisan yang sudah kusajikan. Aku berpedoman bahwa apabila mereka membutuhkanku, pasti mereka akan memanggilku lagi.

Sayangnya hingga jam 1 siang, tiada panggilan yang masuk ke telepon genggamku. Aku sangat kesal karena berulang-ulang kali gagal dipanggil oleh sang HR, yaitu pada hari Jumat sore yang lalu dan pada hari Minggu pagi karena kesalahan teknis. Pada awalnya, aku sangat pasrah dan berpedoman pada kliseku di paragraf sebelumnya. Aku juga tidak mengharapkan apapun dari perusahaan tersebut karena sebelumnya sudah dijanjikan bahwa aku akan dipanggil satu minggu setelah hari di mana aku melaksanakan tes, nyatanya aku dipanggil dua minggu lebih setelah hari tersebut. Itulah yang membuatku putus asa dan harapanku untuk menjadi bagian tersebut sirna dan penuh dengan ketidaksemangatan.

Pada akhirnya, aku tidak ingin menyerah begitu saja tanpa melakukan aksi maupun respon apapun. Aku menyadari bahwasannya menunggu tanpa ada respon berarti sama saja bunuh diri. Perusahaan tersebut memang membutuhkanku, namun di sisi lain aku juga membutuhkan perusahaan tersebut. Aku harus menghapus ego dalam diri ini dan mencoba untuk terus bergerak aktif. Hal tersebut membuat aksiku berjalan sebagaimana mestinya, yaitu dengan mengirimkan beberapa untaian kata ke surel sang HR dengan dibumbui beberapa kata maaf karena tidak mampu menjawab dua panggilan yang diinisiasinya.

Berkat inisiasiku dalam mengirimkan surel tersebut, aku berhasil mendapatkan panggilan beberapa menit setelah surel tersebut dikirimkan. Percakapan tersebut memakan waktu kurang lebih 10 menit mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan dan gaji yang akan kudapatkan. Aku tahu bahwasannya aku masih belum pasti untuk diterima di perusahaan tersebut, namun ada sedikit cahaya dan tanda-tanda yang berkata kepadaku akan hal itu. Aku pun diundang untuk bertemu langsung dengan sang user, Daniel Stan dan Claudiu keesokan harinya, 12 April 2016.

Pada dasarnya, banyak hal yang ingin kutanyakan terhadap mereka mengenai pekerjaan dan seluk-beluk yang akan kujalani. Rasa ketidakpuasan menghampiriku dikarenakan aku pun tidak mampu menyampaikan kata demi kata meskipun menjadi orang yang diwawancara, justru mereka yang lebih banyak bicara. Tentu saja, ada beberapa kesalahan yang harus kugarisbawahi yaitu mengenai ketenangan, kemampuan interpersonal dan kepercayaan diri.

Meskipun begitu, sang HR memberikan bocoran bahwasannya mereka sudah setuju dengan diriku beserta kapabilitas dan potensi yang kumiliki. Hingga akhirnya, Kamis, 14 April 2016, kabar baik datang menghampiriku bahwasannya aku diterima menjadi bagian perusahaan tersebut dengan gaji sedikit di atas bottom line yang sudah aku sebutkan kepada mereka. Aku pun mengakhiri masa pengangguranku selama 74 hari pasca wisuda dan melegakan diri dengan menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

Tentu saja, kebahagian menghampiriku dengan sangat cepat dan aku harus menghargai hal tersebut dan memulai pekerjaan secara lebih serius. Hal tersebut merupakan langkah awalku untuk terjun di dunia kerja sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di luar negeri. Perlu digarisbawahi bahwasannya dunia kerja merupakan dunia tempatku menimba ilmu bukan dunia yang hanya fokus untuk mencari uang.

Aku ingin menimba pengalaman, dan menjadi bagian dari perusahaan tersebut merupakan kesempatan yang besar bagiku untuk meningkatkan kemampuan analisis, komputasi, interpersonal dan bahasa Inggris. Aplikasi yang akan fokus untuk kugunakan adalah Excel, R, MySQL, PHP dan QlikView. Sedangkan, dalam keseharian, aku akan menggunakan bahasa Inggris sekaligus tetap terus belajar dari segi membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Aku pun sudah memiliki rencana ke depannya dalam berada di perusahaan ini sebagai bahan bakar yang dapat membantuku mencapai tujuanku yang sesungguhnya yaitu studi di luar negeri dengan beasiswa penuh, pada tahun 2018.

My Unemployment Day in a Nutshell
Keterangan: 
biru (tes/wawancara melamar pekerjaan), ungu (liburan), merah (ke tempat Koso), hijau (Community Leaders 2016)

Date
Details
Januari 2016
Yudisium, Melamar Citilink dan Semen Gresik
4 Februari 2016
Wisuda
18 Februari 2016
Bermain futsal I (3 gol, 2 assist)
20 Februari 2016
Ke Depok mengikuti Job Fair UI
22 Februari 2016
Asesmen awal Tokopedia dan Kadence International
26 Februari 2016
Tes tahap I Paragon dan langsung ke Bogor sore harinya
27 Februari 2016
Kondangan di Aston Bogor dan menginap di Hotel Century Senayan*
28 Februari 2016
Reuni SMAN 2 Palembang (Polri), Pulang ke Depok menggunakan Grab
29 Februari 2016
Tes tahap II Paragon
3 Maret 2016
Tes Data Scientist Salestock
5 Maret 2016
Ke Hotel Acacia dekat Salemba (pertama kali naik angkot ke stasiun)*
6 Maret 2016
Ke GI dahulu sebelum kembali ke Depok menggunakan kereta dan Grab
8 Maret 2016
Kembali ke Jatinangor (Ijazah dan Reuni)
9 Maret 2016
Bermain futsal II (mungkin sekitar 1 gol)
10 Maret 2016
Kembali ke Depok, persiapan ke Lombok
11 Maret 2016
Berangkat ke Lombok, Hotel Jayakarta*
12 Maret 2016
Ke Pantai Kuta Lombok bagian selatan
13 Maret 2016
Ke Pulau Gili, berkeliling menggunakan sepeda
14 Maret 2016
Kembali ke Depok pada pagi harinya
17 Maret 2016
Ke Hotel Amaris Thamrin menggunakan GrabBike gratis*
18 Maret 2016
Ke tempat Herry pagi-pagi, ke Bogor menggunakan kereta
19 Maret 2016
Ke Curug di daerah pinggiran Bogor dengan lama perjalanan 2,5 jam
20 Maret 2016
Kembali ke Depok pada siang harinya, menggunakan GrabBike dari ITC
21 Maret 2016
Ke tempat Herry pada malam harinya, hari pertama Daniel bekerja
22 Maret 2016
Asesmen awal Lazada sebagai Business Intelligence Analyst
24 Maret 2016
Ke rumah Koso di Cinere, menonton Batman vs Superman
25 Maret 2016
Olahraga bersama Koso, sholat Jumat, kembali ke Depok
27 Maret 2016
Membeli sepeda bekas, olahraga di Depok: Juanda dan sekitarnya
29 Maret 2016
Ke Tanjung Barat, hari pertama CL 2016 di LPMP Jakarta Selatan
30 Maret 2016
Hari kedua CL 2016, belajar mengenal diri sendiri dan masalah sekitar
31 Maret 2016
Hari ketiga CL 2016, belajar mengenai pemecahan masalah
1 April 2016
Satu malam tambahan bersama Fajri dan Praja, kembali ke Depok
2 April 2016
Pelatihan di Badr Interactive, siangnya kembali ke Jatinangor
2 April 2016
Makan di kantin Mama yang baru bersama Geng Mawar
3 April 2016
Pertemuan Chef Data, makan siang di Refresh dengan Kang Nur, Fakhri
3 April 2016
Makan malam bersama Cindy dan Ridha di tempat baru mantan Moby
4 April 2016
Makan siang bersama Arum dan Aul di SS, sempat mampir ke kampus
4 April 2016
Makan malam bersama Cindy dan Ridha di Surboy, ada SMP dan Jack
5 April 2016
Makan siang bersama Cindy, Papau dan Ridha di Pujas
6 April 2016
Seminar Papau, main futsal III, nihil gol, Wanda man of the match
6 April 2016
Makan malam bersama Dedep, Fafit dan Ridha di Pujas, ada Papau, dkk.
7 April 2016
Berencana menetap di kosan Daniel namun tidak jadi
8 April 2016
Job Fair ITB, temu CL bersama Kak Ivan, telepon dari HR Lazada (miss)
9 April 2016
Tes OJK, pergi ke IBS bersama Gery pagi hari dari Jatinangor
9 April 2016
Naik Uber gratis ke kediaman Herry dan menetap semalam di sana
10 April 2016
CFD Sudirman bersama Gery dan Herry, ke Monas jalan kaki 4 km
11 April 2016
Telepon dari HR Lazada, wawancara sedikit dalam bahasa Inggris
12 April 2016
Wawancara user Lazada bersama Daniel Stan dan Claudiu
14 April 2016
Mendapatkan tawaran sebagai Data Analyst dari Lazada
18 April 2016
Hari pertama kerja: belajar dasar PHP
My Unemployment Day in a Nutshell Keterangan: biru (tes/wawancara melamar pekerjaan), ungu (liburan), merah (ke tempat Koso), hijau (Community Leaders 2016)
Waktu tunggu: 74 hari (dari tanggal wisuda), 94 hari (dari tanggal yudisium)
Gagal total: Citilink, Semen Gresik, Veritrans
Gagal tes: Paragon, Salestock, OJK
Gagal wawancara/tatap langsung: Tokopedia, Kadence International
Berhasil: Lazada

09 July 2016

Tagged under: , , ,

Kaleidoskop 2015: Part II


Akhirnya, aku kembali lagi di Life Architecture dengan nama domain baru yaitu emrasy.id setelah selama enam bulan tidak menulis di blog ini. Pasca wisuda Februari 2016, aku disibukkan untuk terjun ke dunia baru pasca kampus. Itulah mengapa, blog ini terbengkalai, dan pada semester dua tahun 2016, aku berniat mengisi kembali blog ini dengan tulisan Life Architecture dan tulisan memukau lainnya.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Kaleidoskop 2015: Part I, kisah perjalanan serta highlight hidupku sepanjang 2015 bagian pertama. Kali ini, aku akan melanjutkan kepingan-kepingan tahun 2015 pada bagian kedua di sini. Enjoy the journey!

PART II 
  1. Olimpiade Nasional Statistika di Jogja
  2. National Statistics Competition di Malang
  3. Prom Night
Olimpiade Nasional Statistika di UGM Yogyakarta
(5 Mei 2015 - 10 Mei 2015)
Indonesia bagian timur yang paling ujung kukunjungi sebelumnya adalah Sumedang. Kali ini, aku diberikan kesempatan untuk memperluas wilayah kunjunganku ke bagian timur. 6 Mei 2015, aku berhasil memperbaharui wilayah kunjunganku di bagian timur yaitu di Yogyakarta. Aku diajak oleh temanku, Herry, untuk menjadi kolega satu tim dalam mengikuti Olimpiade Nasional Statistika yang diadakan di UGM. Satu tim terdiri dari dua orang dan tim yang berasal dari Statistika Unpad ada sebanyak empat tim dengan rincian empat cewek yaitu: Anput, Ami, Lindri, Oci dan empat cowok yaitu: Aku, Fajri, Herry dan Zaenal. Dalam perjalanannya menuju Jogja, Zaenal melakukan perjalanan solo menggunakan sepeda motornya. Sedangkan kami bertujuh menggunakan bus Bandung Express sebagai pemindah menuju Jogja.

Kami berangkat dari Jatinangor pada hari Selasa, 5 Mei 2015. Aku sangat menyukai sensasi menaiki bus malam, karena seolah-olah dibawa terbang ketika kondisi tubuh ini setengah sadar. Namun, di awal perjalanan, bus yang berjalan berbelok-belok membuat kepalaku pusing dan aku pun kesulitan untuk tidur. Berbeda rasanya ketika menggunakan bus melewati jalan Lampung - Palembang yang minim belokan. Barulah, di pertengahan malam ke atas, pasca melewati bukit berbelok-belok, aku bisa tidur tenang meskipun on-off-on-off.

Kami pun sampai di TKP subuh-subuh pada hari Rabu, 6 Mei 2015 di terminal bus bagian utara Jogja yang agak dekat dengan Sleman. Panitia menjemput kami di sana dan langsung mengantar kami ke tempat penginapan milik gubernur Sumatra Utara. Pada pagi harinya, kami langsung berburu makanan di sekitar penginapan. H-1 sebelum ujian dimulai kami habiskan untuk berdiam diri di tempat penginapan sembari belajar mengenai materi-materi yang akan diujikan besok. Aku sudah mencanangkan strategi dengan kolega kompetisiku, Herry. Karena soal yang diujikan adalah pilihan ganda dengan sistem penilaian jika benar mendapat poin +4, salah -2, tidak mengisi 0, aku pun tidak ingin melakukan perjudian dan mengingatkan kepada temanku agar hanya menjawab pertanyaan yang benar-benar yakin saja. Yang benar saja, jika salah -2, padahal pada ujian SBMPTN atau sejenisnya, jika salah -1.

Hari H pertandingan pun dimulai yaitu hari Kamis, 7 Mei 2015. Meskipun bertim, kami mengerjakan soal secara masing-masing dengan soal yang sama, kemudian nilai kami akan dijumlahkan sebagai nilai total tim secara keseluruhan. Artinya, kedua kubu harus memberikan nilai terbaik. Hal tersebut justru menjadi motivasiku, teman satu timku kuanggap rival sendiri sehingga aku mengincar poin tertinggi namun tetap berasaskan hanya menjawab pertanyaan yang benar-benar yakin saja. Hanya 10 tim yang akan maju ke babak berikutnya, dari keseluruhan sekitar 31 tim. Lowongan untuk masuk ke 10 tim terbaik cukup besar yaitu sekitar sepertiga yang akan melaju ke babak berikutnya, apalagi kami membawa empat tim.

Sayangnya, tiada satu tim dari kami yang lolos ke babak berikutnya. Kenyataan yang sangat memahitkan adalah timku hanya membutuhkan empat poin untuk melaju ke babak berikutnya yang setara dengan tidak mengisi dua jawaban yang salah ataupun mendapatkan satu pertanyaan yang benar atau jika lebih baik lagi mendapatkan jawaban yang benar dari jawaban yang salah. Kami berada di peringkat 12 dengan 114 poin bersama dengan peringkat 11 yang juga memiliki poin yang sama. Sedangkan peringkat 10 sampai dengan peringkat 8 mendapatkan poin yang sama 118 poin.

Ami said: "Piala di sebelah minta dipeluk"
Kalimat andai-andai selalu terucap dalam diriku. Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun karena pada dasarnya aku pun bisa disalahkan karena tidak bisa meraih empat poin krusial tersebut. Selain itu, nilai kami berdua bisa dikatakan tidak jauh berbeda. Jika menggunakan sistem peringkat persentil secara parsial, kemudian nilai tersebu dirata-ratakan, kami bisa masuk ke sepuluh besar karena terdapat tim dengan nilai total 118 poin namun secara parsial tidak seimbang yaitu 102 dan 16 poin. Dari 28 soal yang kujawab, hanya 20 soal yang benar, dan 8 lainnya salah, padahal aku sudah bermain "aman" hanya menjawab soal yang benar-benar pasti, kenyataanya banyaknya soal yang kujawab salah pun tidak seperti yang kubayangkan. Kesedihan tentu saja menimpa kami, dan aku menyimpulkan dari sana bahwasannya kata "hampir" memang benar-benar menyakitkan. Kalah tetaplah kalah mau hampir atau tidak, "eleh ya tetap eleh" ujar salah satu temanku di luar kami berdelapan.

Untuk melupakan kekalahan tersebut, kami pun mengagendakan untuk pergi jalan-jalan sejenak di daerah Jogja dan sekitarnya. Pada malam harinya, bersama panitia, kami pergi ke Alun-Alun Kidul dan hanya melewati ramainya Malioboro. Sebelumnya, kami mengunjungi daerah Nol Kilometer Yogyakarta.

Esok harinya, Jumat, 8 Mei 2015, pasca sholat Jumat, kami akan mengunjungi Candi Prambanan di daerah timur Jogja dengan menggunakan Trans Jogja sebagai alat pemindah. Pada hari itu pun, kami pindah dari tempat penginapan yang disediakan panitia ke wisma dekat daerah RSUP Sarjito di Jalan Kesehatan. Pada malam harinya, kami memiliki agenda masing-masing, yang perempuan berkunjung ke Malioboro untuk membeli oleh-oleh dan yang laki-laki pergi menemui teman lamanya masing-masing yang berada di Jogja. Zaenal memiliki agenda yang jauh berbeda dari kami karena dia membawa motor sendiri sehingga fleksibel dan juga dari awal tidak menginap di wisma. Aku pun menyempatkan diri untuk menemui teman satu SMA yang sudah kukenal sejak zaman SD.

Welcome to Candi Prambanan
Jumat, 8 Mei 2015, daerah paling timur Indonesia yang kukunjungi adalah Candi Prambanan
Meratapi kekalahan...
Kami hanya menginap semalam saja di sana dan keesokan harinya, Sabtu, 9 Mei 2015, kami berkunjung ke daerah timur selatan Jogja yaitu berkunjung ke pantai yang bernama Sundak dan Indrayanti dengan menyewa mobil beserta pengendaranya. Dengan begitu, daerah pantai Indrayanti merupakan bagian paling selatan Indonesia yang pernah kukunjungi. Sekaligus menjadi bagian paling barat Indonesia yang pernah kukunjungi pada saat itu. Pantai di Jogja juga merupakan daerah pantai yang ketiga kalinya aku kunjungi di Indonesia setelah pantai utara Jakarta dan pantai di Bangka. Meskipun sudah ketiga kalinya mengunjungi pantai di provinsi yang berbeda, aku belum pernah melihat indahnya matahari terbit maupun terbenam di pantai. Maybe, next time I can see that beauty.

Sabtu, 9 Mei 2015, daerah paling selatan yang kukunjungi adalah pantai-pantai di Jogja
Setelah menikmati pantai, sore harinya kami harus sudah di stasiun Jogja karena kereta yang membawa kami pulang dijadwalkan berangkat pada petang hari. Kami pun sampai di stasiun Kiaracondong, Bandung subuh-subuh keesokan harinya. Empat hari di Jogja cukup membuka mataku untuk terus berjuang lebih baik lagi.

National Statistics Competition di Unibraw Malang
(28 Mei 2015 - 2 Juni 2015)
Aku berkesempatan kembali untuk memperluas wilayah kunjunganku di Indonesia. Kali ini, tempat yang akan kukunjungi adalah Malang, dalam rangka mengikuti lomba NSC di Unibraw. Awalnya, hanya satu tim saja yang akan diberikan bantuan finansial dari jurusan, namun, secara mengejutkan, semua tim termasuk kami, mendapatkan bantuan tersebut. Dari statistika Unpad, ada enam tim yang ikut dengan satu tim terdiri dari dua peserta.

Kami berenam berangkat dari Jatinangor pada sore hari, Kamis, 28 Mei 2015 menggunakan kereta dengan estimasi lama perjalanan sekitar 17 jam. Sekitar jam 9 - 10 pagi, Jumat, 29 Mei 2015, aku pun menghirup udara di kota paling timur yang kukunjungi saat itu yaitu Malang. Kami yang terdiri dari 6 tim atau 12 orang dengan rincian tiga laki-laki dan sembilan perempuan memiliki tempat dan daerah penginapan yang berbeda. Trio laki-laki termasuk diriku menginap di tempat penginapan di luar peserta lainnya yang juga mengikuti kompetisi ini. Sesampainya di tempat penginapan, kami bergegas untuk menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat Jumat dan makan siang di daerah dekat sana.

Pada sore harinya, trio laki-laki bergegas menuju tempat penginapan di mana para peserta berada untuk menikmati nikmatnya sore hari di Malang bersama dengan sembilan rekan kami yang lainnya. Bisa dibilang bahwasannya, kami mencari angin segar sebelum terjun ke arena pertarungan kesokan harinya, Sabtu, 30 Mei 2015. Dari 50 tim yang ikut, hanya 5 tim terbaik yang terpilih menjadi pemenang, atau sekitar 10% dari tim terbaik, dan merupakan pertarungan yang cukup ketat.

Setelah kompetisi berlangsung, sore harinya, kami menikmati hidangan bakso bakar di suatu tempat (entah namanya apa). Sarapan pagi dan siang memang sudah disediakan oleh panitia, jadi kami tidak perlu repot-repot untuk mencari tempat makan pada saat itu. Pengumuman pun dilakukan esok hari (Minggu, 31 Mei 2015) dan aku pun sudah pesimis terhadap performa timku dalam menjawab kasus dalam kompetisi tersebut meskipun hasil analisis yang telah kami lakukan sudah sesuai. Itulah mengapa, aku pun menginap pada malam harinya di apartemen teman masa SMA. Aku pun mencicipi Mi Setan untuk pertama kalinya, it's obviously delicious!


The most delicious food in Malang!
Hari pengumuman tiba, dan aku bergegas dari apartemen teman ke TKP pengumuman. Ada lima tim yang lolos dan sayangnya, tidak ada satu pun tim dari kami yang lolos. Aku gagal untuk membayar kegagalanku saat mengikuti ONS di Jogja sebelumnya. Aku pun merasa memiliki hutang terhadap jurusan statistika bahwasannya tiada satu pun hal yang berarti yang telah kuberikan. Kegagalan yang menghampiriku menunjukkan bahwasannya, aku harus lebih matang dan tenang lagi untuk menghadapi kompetisi-kompetisi berikutnya yang lebih sulit lagi.


Duh! pusing kepala barbie, kalah mulu

Keesokan harinya, Senin, 1 Juni 2015, kami pun kembali pulang ke tanah tempat kami menuntut ilmu tanpa membawa piala apapun. Sebelum itu, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Batu sebelum akhirnya pulang pada sore harinya menggunakan kereta. Tempat spesifik yang kami kunjungi saat itu adalah Coban Rondo, wisata air terjun dan alam yang ada di sana. Batu, seperti halnya Jatinangor, memiliki ciri khas yang sama yaitu sama-sama sejuk dan dingin. 

Welcome to Coban Rondo
Cheers!
Melewati perjalanan kurang lebih 17 jam, aku yakin bahwasannya ada sesuatu yang aku dapatkan selama perjalanan dan berada di daerah Jawa paling timur yang pernah kukunjungi sejauh ini. Kegagalan merupakan pintu yang harus kulewati sebelum bertemu dengan kesuksesan.


Prom Night
(6 Juni 2015)
Prom Night dapat dikatakan sebagai ajang perpisahan Statistika Unpad 2012 sekaligus seremoni dalam menyambut gerbang pintu selanjutnya sebelum lulus, yaitu magang, seminar dan skripsi. Mengikuti tren angkatan sebelumnya, jurusan Statistika Unpad memang lebih cenderung mencetak sarjanawan yang lulus dengan cepat yaitu dengan durasi 3,5 tahun. Oleh karena itu, ajang seperti ini dilakukan lebih cepat sebelum memasuki arena sesungguhnya: skripsi.

Welcome to Prom Night of statunpad12
Acara ini pun berlangsung pada malam hari dan penuh dengan rasa kekeluargan dan keceriaan. Mengusung ala prom, teman-temanku berdandan secara rapi dan memukau! Aku pun hanya berpakaian dengan meminjam kemeja temanku. Keesokan harinya, meskipun mengantuk, kami tetap antusias dalam menjalankan acara berikutnya serta menyelesaikan acara, dengan bersama-sama merasakan dinginya kolam pada pagi hari di sana (Cileunyi).

Sampai jumpa lima tahun mendatang pada tahun 2020!
Lima tahun mendatang dari tahun 2015, yaitu tahun 2020, rencananya kami akan mengadakan reuni akbar. Masa depan memang tidak dapat diprediksi secara absolut dan penuh dengan kejutan yang tidak diduga-duga. Hal tersebut membuatku bertanya-tanya dan penasaran mengenai apa yang aku dan teman-temanku akan capai pada tahun 2020 nanti. Tentu saja, aku berharap dapat menggapai tujuanku dalam lima tahun ini berdasarkan rencana yang tertulis pada halaman Goal
آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
I believe that my future will be amazing! The best way for the best future, ever, ever, ever!


To be continued...