Followers

14 May 2015

Tagged under: ,

OnePlus One is equal to Two: My Story about Ganti HP



"Satu tambah satu sama dengan dua", ya itu sudah absolut. Pada tulisan kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya, sekaligus bernostalgia, dalam mengganti perangkat mungil mobile yang sudah tidak asing lagi di dunia modern ini.


Secara keseluruhan, selama saya hidup hampir 20 tahun di bumi ini, sudah tiga HP yang pernah saya miliki, dengan dua kali mengganti HP, yaitu:
1. Nokia 2600 Classic
2. Lenovo P700i
3. OnePlus One

Intermezzo
Sebenarnya, saya sudah menggunakan HP sejak kelas 1 SMP (tahun 2007). Pada saat itu, HP yang saya gunakan adalah HP kakak saya yang berjudul Nokia (mungkin seri 3120). Pada saat itu masih jamannya SMS-an dan Missed-call-an. Ya, di situlah dunia telekomunikasi menghipnotisku. Dengan berbekal alat yang kecil ini, aku mampu berkomunikasi dengan orang yang jaraknya jauh dariku. Di situlah saya bermain-main dengan komunikasi jarah jauh dengan teman SMP saya, masa-masa kealayan, di mana saya masih menggunakan Friendster. Di masa-masa itulah pula saya mulai mengenal internet, dan pada saat itu kami masih menggunakan internet dengan kuota 50 jam per bulan, benar-benar sangat terbatas berbeda dengan tahun 2015.


My First Handphone, Nokia
HP pertama yang benar-benar resmi jadi milik saya adalah Nokia. HP ini saya beli kira-kira pada saat saya masih menduduki bangku SMP kelas 3 (tahun 2008 atau 2009). Saya tidak teralu ingat persis kenapa saya membeli HP ini. Dan juga saya tidak melakukan survei terlebih dahulu akan HP ini, langsung beli saja waktu itu di toko. Dan harganya waktu itu sekitar 900rb.

HP ini bisa bertahan sampai tiga masa pendidikan saya, SMP, SMA dan kuliah. Saya membelinya di akhir tahun saat SMP, dan berpisah dengannya pada awal tahun kuliah. Ketika SMA, di saat kebanyakan teman saya menggunakan BB, saya masih tetap bertahan dengan HP ini. Hal ini dikarenakan ketika saya SMA, memang sebenarnya tidak diperbolehkan membawa HP. Saya tidak mau coba-coba membawa HP. Benar-benar penggunaan HP di dunia pendidikan yang minim kala itu.

Dengan kamera VGA, saya berhasil menangkap kenangan-kenangan pada kala itu. Bahkan saya sering mengambil video dengan kamera HP ini yang hanya dibatasi dengan durasi 8 detik. Saya mampu membuat suara-suara aneh (seperti efek tembakan, dan ledakan) dengan HP ini karena kualitas videonya yang tidak jernih sehingga efek suaranya jadi aneh pula.

Pada akhir tahun 2012, saya memutuskan untuk pindah ke era smartphone, era android. Kurang lebih 4 tahun saya bersama Nokia 2600 ini.


Era Smartphone. Lenovo P700i
Di awal perkuliahan, saya menyadari bahwa Nokia 2600 sudah tidak layak untuk menemani saya. Ada beberapa kelemahan yang ia miliki yaitu kamera yang hanya VGA dan juga pengambilan video terbatas hanya 8 detik dengan memori internal yang benar-benar minim sebesar kurang lebih 10MB. Niat saya saat itu untuk mengganti HP sebenarnya dikarenakan ingin mendapatkan kamera yan lebih bagus.

Pada akhir tahun 2012, saya berencana untuk mengganti HP ini dengan smartphone. Pada saat itu, saya benar-benar buta dengan dunia smartphone. Saya waktu itu sempat bermain di kosan teman saya di Bandung. di situ, mereka memberikan pencerahan kepada saya untuk memilih Lenovo, terdapat dua pilihan kala itu, yaitu seri P700i dan S560. Perbedaan harganya adalah 300rb (P700i: 2000rb, S560:1700rb). By the way, seri itu merupakan keluaran pertama smartphone dari Lenovo di Indonesia.

Karena kebutaan saya akan smartphone, saya tidak terlalu melihat secara detail spesifikasi dari smartphone yang akan saya beli. Saya hanya melihat kamera, memori, hanya sekedar itu. Saya tidak melihat review dari orang lain tentang HP yang akan saya beli. 

Pada awal Desember 2012, saya berencana pergi ke Surabaya bersama ibu dan kakak saya. Di Surabaya, saya berencana membeli HP baru. Namun, semua itu sirna karena saya dan kakak saya telat menuju bandara. Momen itu merupakan momen tak terlupakan yang memberikan pelajaran kepada saya agar mampu mengestimasi dan menjadi lebih disiplin.
Karena kejadian itu, kami pergi menuju tempat saudara kami di Bogor. Keesokan harinya saya bersama kakak saya pergi ke Mangga Dua untuk mencari si Lenny. Tepatnya tanggal 2 Desember 2012, saya resmi membeli smartphone. Pilihan jatuh ke P700i, hal ini dikarenakan S560 sudah habis terjual di toko itu. Mencari sana-sini di Mangga Dua pun, saya tidak menemukan si Lenny. Saat itu, saya memiliki alternatif untuk membeli Sony Xperia karena alasan kamera yang dimilikinya. Namun, karena saya berhasil menemukan P700i, akhirnya saya memutuskan untuk meminangnya. Kala itu, kakak saya juga membeli PSP.

Di angkatan saya, mungkin saya merupakan orang pertama yang membeli P700i, the first generation of Lenny smartphone. Kelebihan utama P700i dibandingkan S560 adalah pada baterai yang dimilikinya. Dibandingkan smartphone lain dengan harga kisaran itu, pada saat itu, baterai P700i memang benar-benar tahan, 1-5 hari tergantung pemakaian.


OnePlus One 
Inilah HP saya sekarang. Mungkin, saya terkesan membelinya secara tiba-tiba. Sepertiga dari tabungan saya lenyap karena HP ini. Dua tahun berlalu dengan cepat saya menggunakan P700i. Saya merasa si Lenny tidak terlalu baik jika saya bawa secara mobile. Well, baterainya bisa tahan lama tapi kelemahannya, si Lenny tidak bisa melakukan multitasking dengan baik. Aplikasi sering kali mengalami force close. Wajar saja RAM yang dimilikinya hanya 512 MB. Untuk browsing saja, P700i tidak terlalu baik. Kamera yang dimilikinya pun tidak terlalu istimewa, yaitu sebesar 5MP. 

Itulah kenapa, saya berencana untuk mengganti si Lenny. Bahkan satu tahun sebelum saya mengganti P700i, saya sudah tertarik untuk mengganti HP. Satu tahun benar-benar perkembangan yang sangat cepat dalam dunia smartphone. Barulah pada tahun 2015, hal tersebut terjadi. Awalnya, saya berencana meminang ZF2 dengan RAM 4GB dengan prediksi harga yang setara dengan OPO. Namun, karena tanggal rilisnya masih lama, dan saya pun tidak sabaran, saya langsung banting setir ke OPO. Dan akhirnya, pada tanggal 20 Maret 2015, si OPO meluncur ke tangan saya. Setelah kurang lebih tiga hari menunggu. Well, untuk pertama kalinya, saya membeli HP via online. Saya memesan OPO dari Lazada, hal ini dikarenakan, hanya di situ OPO dijual. OPO memang hard-to-get dan eksklusif. Namanya memang tidak setenar merk-merk lain. Namun, OPO benar-benar worth-buy. OPO merupakan flagship killer tahun 2014 setara dengan S5, G3 dan HP high-end dengan harga hampir setengahnya. Well played, OPO!

Jika dibandingkan dengan P700i, jelas, dia kalah mutlak. Saya beralih dari HP low-end ke HP high-end tanpa melewati zona HP mid-end. Dengan RAM 3GB, saya dapat melakukan multitasking dengan baik. Ya, 3GB, enam kali lipat dari RAM P700i. Benar-benar perbedaan yang signifikan. Dan juga dengan kamera 13MP, saya dapat menangkap momen-momen tertentu dengan lebih mantap lagi meskipun kamera OPO tidak terlalu spesial dibandingkan HP high-end lainnya. Hal ini dikarenakan, sensitivitas kamera yang lemah dan juga pengambilan gambar di tempat yang gelap memang tidak terlalu memuaskan. Di sisi lain, kamera depannya juga mantap dengan resolusi 5MP yang setara dengan kamera belakang P700i. Selain itu, pengambilan video yang didukung sampe 4K benar-benar luar biasa.

Well, secara keseluruhan, OPO memang worth-to-buy. Untuk kelas high-end, harganya memang bersahabat. Meskipun, buat gue yang berada di level mahasiswa, harga tersebut cukup menguras kantong gue. 

Rencananya si OPO bakal nemenin gue minimal buat 5 tahun ke depan (tahun 2020). Ya, semua itu hanya rencana. Teknologi pasti berkembang sangat cepat terutama di bidang smartphone. Dalam waktu dua tahun, P700i benar-benar ketinggalan jaman. Dengan harga yang setara sekitar 2000rb, pada saat ini, HP dengan RAM 2GB udah bisa didapatkan. Gimana kalau buat dua tahun lagi? Yaitu tahun 2017, mungkin dengan uang 2000rb, HP dengan RAM 4GB sudah bisa didapatkan. 

Shutting Down
Teknologi memang berkembang dengan pesat. 2600 bisa bertahan pada tiga masa pendidikan gue yaitu SMP, SMA dan kuliah. Sedangkan P700i saja tidak bisa bertahan pada satu masa pendidikan gue yaitu saat kuliah. P700i hanya bertahan selama setengah dari masa kuliah gue. Menarik untuk dilihat, seberapa lama si OPO bakal bertahan?

Mungkin, gue mengganti HP tidak sebanyak anda, hanya dua kali. Apalagi gue nggak melewati masa BBM-an. But, sebagus apapun HP yang digunakan, dengan cepat bakalan ketinggalan jaman. Manusia tidak akan pernah merasa puas. Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita bodoh. Jangan sampai teknologi membuat kita kurang berempati dengan sesama. Gunakan teknologi dengan maksimal, sesuai kebutuhan anda. Jangan lupa untuk membatasi penggunaan teknologi. 

Do not let "smart" in smartphone turn us down to dumbass! We are smarter than smartphone itself.
{grammarnya benar ga yah? hahaha}

Oh ya, di akhir channel ini, gue bakal ngasih tabel perbandingan 2600, P700i dan OPO. Let's see!
MerekNokiaLenovoOnePlus 
Tipe2600 ClassicP700iOne (A0001)
Tanggal rilisMaret 2008November 2012Juni 2014
Tanggal beli20082 Desember 201220 Maret 2015
Masa beliAkhir masa SMPAwal masa kuliahPertengahan masa kuliah
Tempat beliPalembangMangga DuaLazada
Harga beli900rb1999rb3999rb
Lama pemakaian1600 hari800 hari55 hari (14 Mei 2015)
Biaya per hari0,501rb2,254rb73,175rb (14 Mei 2015)
KameraVGA5MP13MP
Layar1,77inch4,00inch5,50inch
Berat73,2gr162gr162gr

0 comments: